Feline Viral Rhinotracheitis

Secara kebetulan banyak pasien saya belakangan ini memiliki keluhan yang sama: pilek dengan mata sembab atau bengkak dan mengeluarkan air mata yang kental (saya tidak tahu bahasa Indonesia yang benar, tapi kalau orang Jawa biasa menyebut sebagai “belek”) sampai kesulitan membuka matanya. Kebanyakan pasien tersebut adalah kucing kucing yang masih kecil dengan umur kurang dari 8 minggu. Lanjutkan membaca “Feline Viral Rhinotracheitis”

Feline Viral Rhinotracheitis

Konjungtivitis Karena Virus Herpes Kucing

Berbeda dengan konjungtivitis yang disebabkan Feline Chlamydia  (Chlamydophila felis) dan Feline Mycoplasma yang saya bahas dalam artikel terdahulu, konjungtivitis karena Feline Herpes Virus 1(FHV -1) lebih kompleks dan karenanya memerlukan pembahasan tersendiri.

Virus Herpes Kucing tipe 1(FHV – 1)sebenarnya virus yang umum dijumpai pada semua kucing dimuka bumi ini, sebagian besar kucing pernah terpapar virus ini ketika masih anakan. Virus yang terlanjur masuk kedalam tubuh kucing akan menetap dan tinggal dalam tubuh kucing tersebut seumur hidupnya walaupun tanpa gejala. Akan tetapi pada keadaan tertentu, virus ini bisa tiba tiba menimbulkan masalah dan menyebabkan kucing nampak sakit. Lanjutkan membaca “Konjungtivitis Karena Virus Herpes Kucing”

Konjungtivitis Karena Virus Herpes Kucing

Leukemia Pada Kucing

Feline Leukemia Virus (FeLV) merupakan virus dari golongan retrovirus yang mampu memodifikasi sel kucing yang ditempatinya menjadi sel kanker. Virus ini sudah tersebar luas diseluruh dunia dan menyebabkan banyak kematian pada kucing. Menurut data yang dikutip dari merckvetmanual, pada tahun 2010 sebanyak 3,1% kucing di Amerika terdeteksi terinfeksi FeLV, di Jerman dan Kanada sebanyak 3,6% populasi kucing terdeteksi terinfeksi, di Mesir sebanyak 4,6% dan di Thailand sebanyak 24,5%. Tidak disebut data untuk Indonesia,namun mengingat kondisi geografis dan sosial ekonomi yang hampir serupa maka kemungkinan angkanya tidak jauh berbeda dengan di Thailand.

Gejala kucing yang terinfeksi FeLV bisa berbeda antara satu kucing dengan kucing lainnya, hal ini dikarenakan infeksi FeLV seringkali menimbulkan infeksi ikutan. Sebagian dari gejala tersebut adalah:hilangnya nafsu makan, kehilangan berat badan, bulu kusam, pembengkakan kelenjar getah bening, demam, gusi dan mulut kelihatan pucat, radang gusi dan mulut, infeksi pada kulit, infeksi saluran pernafasan, diare, gangguan saraf (sempoyongan dan inkoordinasi)serta keguguran.

Hampir semua virus FeLV yang menginfeksi kucing berasal dari subtype A, virus ini bisa bermutasi dan berubah menjadi subtype yang lain: subtype B yang menyebabkan kanker, subtype C yang menyebabkan adanya gangguan pembentukan sel darah dan selanjutnya memunculkan anemia atau kekurangan darah serta subtype T yang mengganggu pembentukan limfosit dan menyebabkan gangguan kekebalan tubuh.

Virus FeLV biasanya masuk melalui mulut atau saluran hidung kemudian berbiak di kelenjar getah bening terdekat. Selanjutnya melalui aliran darah virus akan menyebar ke seluruh tubuh (ginjal,limpa,kandung kemih, kelenjar ludah dan sumsum tulang). Viremia (adanya virus dalam darah) biasanya terjadi 2 – 4 minggu setelah infeksi. Pada awal infeksi biasanya tidak nampak gejala yang menonjol, kucing biasanya mengalami demam ringan, tubuhnya merasa tidak nyaman dan pembesaran kelenjar getah bening serta berkurangnya sel darah.

Ketika seekor kucing terinfeksi FeLV, ada empat kemungkinan yang bisa  terjadi:

  1. Infeksi Abortif: Pada kucing yang mempunyai pertahanan tubuh yang baik ,virus akan dilumpuhkan dan dibersihkan dari tubuh kucing sehingga kucing tetap sehat serta tidak menunjukkan gejala infeksi,sayangnya kondisi ini sangat jarang terjadi.
  2. Infeksi Regresif:Pada kucing yang mempunyai pertahanan tubuh cukup, virus akan dilokalisir sehingga tidak menyebar namun masih tetap ada dalam tubuh kucing. Kucing seperti ini tidak menunjukkan gejala sakit dan biasanya tidak menularkan virus melalui air liurnya.
  3. Infeksi Progresif: Pada kucing dengan pertahanan tubuh yang tidak cukup maka virus akan menyebar ke seluruh tubuh serta dapat menularkan virus melalui air liurnya.
  4. Infeksi Fokal: Kekebalan kucing cukup untuk menghambat virus untuk tidak menyebar namun virus terlokalisir dan bereplikasi (berbiak) pada organ tertentu saja misalnya kandung kemih atau mata.Keadaan ini juga sangat jarang terjadi.

Infeksi virus FeLV  menimbulkan berbagai kerusakan pada tubuh kucing berupa: anemia, kanker, penyakit yang diakibatkan lemahnya kekebalan tubuh, problem reproduksi, gangguan saraf dan radang mulut.

Anemia atau kekurangan darah terjadi karena virus menginfeksi sumsum tulang dan mengganggu proses pembentukan darah. Biasanya anemia yang terjadi bersifat nonregeneratif atau tidak bisa diperbaiki.

DNA dari virus FeLV mempunyai kemampuan untuk merubah DNA sel kucing yang ditempatinya. Kanker atau tumor yang paling banyak terjadi adalah kanker kelenjar getah bening,virus yang menginfeksi sumsum tulang juga bisa menyebabkan leukemia dimana sel darah putih berbiak tidak terkendali dan memangsa sel darah merah.Selain itu FeLV juga bisa menimbulkan kanker di berbagai organ dalam  yang lain.

Gangguan kekebalan tubuh yang disebabkan oleh FeLV menyebabkan tubuh kucing menjadi rentan terhadap adanya infeksi sekunder dari bakteri, jamur, protozoa atau bahkan virus lain.

Kucing betina yang hamil bisa mengalami keguguran. Janin dapat terinfeksi virus yang ditularkan melalui plasenta. Apabila janin bisa bertahan hidup dan selamat sampai lahir maka anak kucing tersebut kemungkinan sudah mengandung virus dalam tubuhnya. Jalur penularan yang lain adalah melalui air susu induk. Gejala anak kucing yang terinfeksi FeLV adalah suhu tubuh yang dingin, dehidrasi dan kematian secara bersamaan yang terjadi dalam dua minggu pertama, keadaan ini  sering disebut sebagai gejala “fading kitten syndrome”.

Pada saat ini terdapat tiga macam metode diagnosis laboratorium yang umum dipakai untuk menguatkan diagnosa terhadap FeLV yaitu: ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay), IFA (Immunofluorescent Assay) dan PCR (Polymerase Chain Reaction).ELISA dan IFA merupakan metode diagnostik berdasarkan reaksi antigen dan antibodi sedangkan PCR merupakan metode diagnostik berdasarkan identifikasi adanya DNA virus pada sampel yang diperiksa. Pada saat ini di Indonesia tidak banyak klinik hewan yang memiliki fasilitas ini. Walaupun penulis tidak mengetahui secara pasti berapa biayanya namun bisa dipastikan tidak murah untuk ukuran pemilik kucing secara umum, ini salah satu sebab kenapa dokter hewan praktek di Indonesia jarang mendasarkan diagnosa FeLV dengan metode tersebut (apalagi tidak ada yang bisa menjamin hasilnya 100% akurat) dan lebih mendasarkan pada pemeriksaan klinis serta sejarah penyakitnya.

Seperti penyakit karena virus lainnya,untuk FeLV tidak ada terapi yang efektif sehingga terapi pada kucing penderita lebih banyak difokuskan pada :mempertahankan kondisi tubuh penderita,menghambat penyebaran virus dan mencegah atau menghilangkan infeksi sekunder.

Penanganan terhadap untuk kucing penderita meliputi:pemberian pakan dengan nutrisi yang baik dan seimbang, hindari pemberian daging atau ikan mentah, pengobatan rutin terhadap parasit (kutu,cacing,jamur), Apabila memungkinkan pisahkan kucing yang pernah sakit dengan kucing yang masih sehat.

Dengan perawatan yang baik disertai dengan pengobatan terhadap infeksi sekunder yang tepat serta dengan meminimalkan stress terhadap kucing, kucing penderita FeLV masih bisa bertahan hidup selama bertahun tahun tanpa komplikasi penyakit yang berarti.

Pencegahan terhadap penyakit ini bisa dilakukan dengan memastikan memperoleh (mengadopsi) kucing dari sumber yang sehat, pemberian pakan yang baik dan seimbang dan vaksinasi. Memelihara kucing hanya di dalam rumah sangat membantu menurunkan resiko tertular dari kucing lain.

Walaupun virus ini sangat mudah menular dari satu kucing ke kucing lain, namun virus ini tidak menular ke hewan lain dan manusia. Jika anda mempunyai pengalaman khusus dengan kucing anda, silahkan berbagi dengan menulis komentar disini.

Leukemia Pada Kucing

Kucing Kehilangan Kekebalan Tubuh Karena Feline Immunodeficiency Virus

Feline Immunodeficiency Virus atau FIV merupakan salah satu penyakit pada kucing yang disebabkan oleh virus, karena sifatnya yang merusak sistem kekebalan kucing maka penyakit ini sering disamakan dengan HIV pada kucing.

Virus penyebab FIV berasal dari golongan retrovirus yang tergolong lentogenik atau lambat.Selain FIV virus dari kelompok retrovirus juga menyebabkan FeLV (Feline Leukemia Virus),namun diantara keduanya terdapat perbedaan baik bentuk maupun susunan kimianya.

Virus ini menular diantara sesama kucing namun tidak menular ke anjing atau ke manusia. Modus utama penularan adalah melalui gigitan (biasanya pada jantan yang berkelahi). Penularan dari induk ke anak walaupun jarang tapi dimungkinkan terjadi (ketika anak kucing lahir melewati saluran reproduksi induk). Penularan juga bisa terjadi pada saat induk menyusui namun penularan melalui kontak kelamin bukanlah modus utama penularan FIV.

Virus yang masuk ke tubuh, pertama kali akan menyerang kelenjar getah bening terdekat (organ yang memproduksi sel darah putih untuk pertahanan tubuh) kemudian virus akan menyebar ke kelenjar getah bening yang lain diseluruh tubuh kucing. Infeksi virus ini menyebabkan adanya pembengkakan pada kelenjar getah bening dan juga menimbulkan reaksi demam yang ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh kucing. Karena sifatnya yang lambat (lentogenik) biasanya tahapan awal infeksi virus ini tidak teramati oleh pemilik kucing.

Setelah mengalami infeksi, kondisi tubuh kucing penderita akan mengalami penurunan. Namun sering kali terjadi gejala sakit muncul bergantian dengan gejala kucing sehat bahkan bisa terjadi kucing nampak sembuh (sehat) dalam jangka waktu yang lama kemudian sakit lagi (berselang seling dalam jangka waktu yang lama). Beberapa gejala klinis kucing yang terkena FIV antara lain:

  1. Demam, bulu kusam dan nafsu makan menurun.
  2. Adanya radang gusi (gingivitis), radang mulut (stomatitis), infeksi pada kulit yang bersifat kronis dimana nampak bulu yang rontok dan kulit yang berwarna kemerahan.
  3. Kesulitan kencing yang ditandai dengan kencing mengejan karena adanya Infeksi kronis (berlangsung lama) pada sistem perkencingan dan gangguan pernafasan karena infeksi pada saluran pernafasan.
  4. Diare berkepanjangan serta adanya gangguan penglihatan.
    Sering dibarengi munculnya kanker.
  5. Betina yang tidak dikebiri biasanya mengalami keguguran ketika hamil.
  6. Adanya gejala syaraf berupa kejang kejang.
  7. Luka yang tidak kunjung sembuh.

Gejala tersebut sangat bervariasi karena pada dasarnya gejala tersebut muncul akibat adanya infeksi sekunder yang disebabkan lemahnya sistem pertahanan tubuh kucing.Karenanya diagnosa adanya penyakit FIV diberikan setelah dokter memastikan penyebab utamanya bukalah bakteri, jamur, atau parasit lain.

Diagnosa terhadap FIV bisa dilakukan dengan pemeriksaan adanya antibodi dalam darah kucing, sayangnya pemeriksaan antibodi saja (apalagi yang dilakukan hanya sekali) belumlah menjamin keakuratan hasilnya sebab metode ini pada prinsipnya hanya mendeteksi ada atau tidaknya antibodi dalam darah kucing akibatnya walaupun pada pemeriksaan darah didapat hasil positif namun masih belum bisa dipastikan kucing tersebut 100% sakit karena adanya kemungkinan :

False positif atau positif semu, untuk itu dianjurkan pemeriksaan silang dengan metode lain.
Kucing pernah terinfeksi namun sudah sembuh
Anak kucing tidak terinfeksi namun dalam darahnya mengandung antibodi yang didapat dari induknya pada saat menyusui.Pada anak kucing yang ditemukan hasil positif dianjurkan untuk pemeriksaan ulang dengan selang waktu 60 hari sampai anak kucing berusia 6 bulan.

Sedangkan pada kucing yang didapat negatif belum bisa dipastikan 100% kucing tidak sakit karena sebab sebab berikut:

Infeksi baru saja terjadi sehingga antibodi belum muncul sehingga sebaiknya pemeriksaan diulang setelah 60 hari.
Infeksi sudah lama sekali terjadi sehingga sistem tubuh berkompromi dan antibodi tidak dihasilkan.

Pada saat ini sudah ada vaksin untuk penyakit FIV namun hasilnya masih belum dianggap maksimal sehingga belum digunakan secara luas di pasaran. Demikian juga sebagaimana penyakit lain yang disebabkan oleh virus, maka belum ada obat yang efektif untuk FIV, dokter hewan biasanya akan fokus pada menjaga kondisi tubuh kucing dan menekan terjadinya infeksi sekunder dengan pengobatan pendukung ( therapy supportive).

Karena alasan tersebut diatas, maka sangatlah penting untuk mencegah kucing kita dari penyakit ini dengan berbagai hal yang bisa dilakukan sendiri oleh pemilik kucing, seperti: usahakan mengadopsi kucing yang sehat, menghindarkan kucing berkelahi, apabila meungkinkan kucing dipelihara dalam ruangan saja (indoor), memberi pakan yang lengkap dan seimbang,hindari memberi makanan berbahan mentah, serta segera memeriksakan kucing ke dokter hewan apabila dijumpai hal hal yang tidak wajar.

Adapun untuk kucing yang terlanjur terinfeksi bisa dilakukan hal hal seperti: menghindarkan menulari kucing lain (misal dengan mencegah kucing berkeliaran), apabila betina supaya disterilkan, memberi pakan yang lengkap dan seimbang, hindari memberi makan bahan mentah.

Kucing Kehilangan Kekebalan Tubuh Karena Feline Immunodeficiency Virus