Kucing Muntah dan Diare,Salah Satu Gejala Distemper

Tema mengenai penyakit distemper yang disebabkan virus Feline Panleukopenia pada kucing selalu menarik perhatian saya,salah satu alasannya adalah pengalaman masa kecil saya kehilangan beberapa ekor kucing karena sakit dengan gejala distemper, sangat sedih rasanya melihat kucing saya sakit tanpa bisa melakukan apa apa.

Baru baru ini saya kedatangan pasien seekor kucing “kampung” jantan. Rambutnya yang hitam mengkilap dengan berat badan 4 kg cukup menjelaskan bahwa kucing ini terawat dengan baik.Menurut pemiliknya, kucing berumur 11 bulan ini merupakan anakan dari kucing pendatang yang datang kerumahnya.Secara pribadi saya sangat menaruh hormat dengan mereka yang dengan tulus merawat kucing “kampung” seperti ini, bagi saya merekalah pencinta kucing sejati

Menurut pemilik, si hitam belum pernah mendapatkan vaksinasi dan sudah dua hari ini lesu serta tidak mau makan padahal biasanya dia suka sekali diberi makan “ikan pindang” namun sekarang tidak mau menyentuhnya sama sekali.Sudah dicoba variasi pakan dengan memberikan “cat food” basah dari sebuah merek terkenal namun juga tetap tidak mau. Selain tidak mau makan kucing ini juga menolak untuk minum dan belakangan juga berkali kali muntah dengan muntahan berwarna kuning.Kucing yang tadinya ceria lebih suka diam dengan melipat tangannya dibawah dada serta kepala menunduk. Setelah berselancar di Internet, pemilik akhirnya mencoba memberi larutan oralit namun sayangnya setelah diminumkan kucingnya juga muntah lagi.Selama ini sang kucing ini sangat aktif memburu tikus sehingga pemilik sempat menduga kucingnya keracunan karena memakan tikus yang sudah diracun. Lanjutkan membaca “Kucing Muntah dan Diare,Salah Satu Gejala Distemper”

Kucing Muntah dan Diare,Salah Satu Gejala Distemper

Cat Scratch Disease,Penyakit Cakaran Kucing

Penyakit Cat Scratch Disease (SCD) atau bisa diterjemahkan sebagai Penyakit cakaran kucing mungkin tidak begitu populer, namun karena sifatnya yang zoonosis atau menular dari hewan ke manusia maka penting bagi kita untuk mengetahuinya. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bartonella henselae dan kucing disini hanya berperan sebagai reservoir saja. Selain kucing, anjing juga berperan sebagai perantara dari bakteri B.henselae tersebut.

Sebenarnya penyakit ini tidak berakibat fatal bagi manusia dan bahkan sering bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan khusus. Akan tetapi pada keadaan tubuh lemah dan minim zat kebal (misalnya pada penderita HIV), maka penyakit ini bisa menjadi serius.

Manusia bisa tertular bakteri Bartonella henselae jika digigit atau dicakar kucing/anjing yang terinfeksi bakteri ini. Selain gigitan penularan juga bisa terjadi apabila kucing yang terinfeksi menjilat kulit yang memiliki luka terbuka.

Pada manusia, gejala CSD biasanya muncul 7 – 14 hari setelah terjadinya gigitan. Gejala berupa benjolan kemerahan pada area gigitan,pembesaran kelenjar getah bening terdekat dari lokasi gigitan, demam ringan, menggigil,kelelahan,nafsu makan turun, otot terasa pegal dan mual mual. Karena gejalanya yang cenderung ringan bersifat umum tersebut barangkali penyakit ini tidak begitu populer (tidak sepopuler rabies misalnya).

Pada kucing sendiri infeksi bakteri Bartonella henselae kebanyakan tidak menunjukkan gejala apapun kalaupun muncul demam biasanya akan sembuh sendiri setelah 2 – 3 hari. Pada kejadian yang lebih serius (tapi sangat jarang terjadi) kucing menunjukkan gejala demam, mual dan muntah, mata kemerahan, lesu dan nafsu makan yang berkurang. Bakteri bisa bertahan selama berbulan bulan dalam darah kucing tanpa gejala dan baru akan nampak apabila kucing mengalami stress atau kekebalannya menurun akibat adanya penyakit lain.

Penularan bakteri Bartonella henselae pada kucing terkait dengan pinjal dan kutu, dimana bakteri menyebar melalui kotoran pinjal yang menempel pada kulit kucing dan kemudian tertelan kucing ketika grooming (menjilat). Pada manusia selain gigitan kucing, secara teoritis juga bisa menular melalui gigitan pinjal secara langsung.

Pada kucing yang terinfeksi bakteri Bartonella pengobatan bisa dilakukan dengan pemberian antibiotika dan pencegahan yang paling murah bisa dilakukan dengan menjaga agar kucing tidak memiliki kutu atau pinjal dengan cara menjaga kebersihannya serta rutin melakukan grooming dan pengobatan terhadap parasit.

Sedangkan pada manusia, apabila mengalami gejala tersebut diatas setelah digigit atau dicakar kucing maka segeralah menghubungi dokter terdekat.

Cat Scratch Disease,Penyakit Cakaran Kucing

Kucing Kehilangan Kekebalan Tubuh Karena Feline Immunodeficiency Virus

Feline Immunodeficiency Virus atau FIV merupakan salah satu penyakit pada kucing yang disebabkan oleh virus, karena sifatnya yang merusak sistem kekebalan kucing maka penyakit ini sering disamakan dengan HIV pada kucing.

Virus penyebab FIV berasal dari golongan retrovirus yang tergolong lentogenik atau lambat.Selain FIV virus dari kelompok retrovirus juga menyebabkan FeLV (Feline Leukemia Virus),namun diantara keduanya terdapat perbedaan baik bentuk maupun susunan kimianya.

Virus ini menular diantara sesama kucing namun tidak menular ke anjing atau ke manusia. Modus utama penularan adalah melalui gigitan (biasanya pada jantan yang berkelahi). Penularan dari induk ke anak walaupun jarang tapi dimungkinkan terjadi (ketika anak kucing lahir melewati saluran reproduksi induk). Penularan juga bisa terjadi pada saat induk menyusui namun penularan melalui kontak kelamin bukanlah modus utama penularan FIV.

Virus yang masuk ke tubuh, pertama kali akan menyerang kelenjar getah bening terdekat (organ yang memproduksi sel darah putih untuk pertahanan tubuh) kemudian virus akan menyebar ke kelenjar getah bening yang lain diseluruh tubuh kucing. Infeksi virus ini menyebabkan adanya pembengkakan pada kelenjar getah bening dan juga menimbulkan reaksi demam yang ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh kucing. Karena sifatnya yang lambat (lentogenik) biasanya tahapan awal infeksi virus ini tidak teramati oleh pemilik kucing.

Setelah mengalami infeksi, kondisi tubuh kucing penderita akan mengalami penurunan. Namun sering kali terjadi gejala sakit muncul bergantian dengan gejala kucing sehat bahkan bisa terjadi kucing nampak sembuh (sehat) dalam jangka waktu yang lama kemudian sakit lagi (berselang seling dalam jangka waktu yang lama). Beberapa gejala klinis kucing yang terkena FIV antara lain:

  1. Demam, bulu kusam dan nafsu makan menurun.
  2. Adanya radang gusi (gingivitis), radang mulut (stomatitis), infeksi pada kulit yang bersifat kronis dimana nampak bulu yang rontok dan kulit yang berwarna kemerahan.
  3. Kesulitan kencing yang ditandai dengan kencing mengejan karena adanya Infeksi kronis (berlangsung lama) pada sistem perkencingan dan gangguan pernafasan karena infeksi pada saluran pernafasan.
  4. Diare berkepanjangan serta adanya gangguan penglihatan.
    Sering dibarengi munculnya kanker.
  5. Betina yang tidak dikebiri biasanya mengalami keguguran ketika hamil.
  6. Adanya gejala syaraf berupa kejang kejang.
  7. Luka yang tidak kunjung sembuh.

Gejala tersebut sangat bervariasi karena pada dasarnya gejala tersebut muncul akibat adanya infeksi sekunder yang disebabkan lemahnya sistem pertahanan tubuh kucing.Karenanya diagnosa adanya penyakit FIV diberikan setelah dokter memastikan penyebab utamanya bukalah bakteri, jamur, atau parasit lain.

Diagnosa terhadap FIV bisa dilakukan dengan pemeriksaan adanya antibodi dalam darah kucing, sayangnya pemeriksaan antibodi saja (apalagi yang dilakukan hanya sekali) belumlah menjamin keakuratan hasilnya sebab metode ini pada prinsipnya hanya mendeteksi ada atau tidaknya antibodi dalam darah kucing akibatnya walaupun pada pemeriksaan darah didapat hasil positif namun masih belum bisa dipastikan kucing tersebut 100% sakit karena adanya kemungkinan :

False positif atau positif semu, untuk itu dianjurkan pemeriksaan silang dengan metode lain.
Kucing pernah terinfeksi namun sudah sembuh
Anak kucing tidak terinfeksi namun dalam darahnya mengandung antibodi yang didapat dari induknya pada saat menyusui.Pada anak kucing yang ditemukan hasil positif dianjurkan untuk pemeriksaan ulang dengan selang waktu 60 hari sampai anak kucing berusia 6 bulan.

Sedangkan pada kucing yang didapat negatif belum bisa dipastikan 100% kucing tidak sakit karena sebab sebab berikut:

Infeksi baru saja terjadi sehingga antibodi belum muncul sehingga sebaiknya pemeriksaan diulang setelah 60 hari.
Infeksi sudah lama sekali terjadi sehingga sistem tubuh berkompromi dan antibodi tidak dihasilkan.

Pada saat ini sudah ada vaksin untuk penyakit FIV namun hasilnya masih belum dianggap maksimal sehingga belum digunakan secara luas di pasaran. Demikian juga sebagaimana penyakit lain yang disebabkan oleh virus, maka belum ada obat yang efektif untuk FIV, dokter hewan biasanya akan fokus pada menjaga kondisi tubuh kucing dan menekan terjadinya infeksi sekunder dengan pengobatan pendukung ( therapy supportive).

Karena alasan tersebut diatas, maka sangatlah penting untuk mencegah kucing kita dari penyakit ini dengan berbagai hal yang bisa dilakukan sendiri oleh pemilik kucing, seperti: usahakan mengadopsi kucing yang sehat, menghindarkan kucing berkelahi, apabila meungkinkan kucing dipelihara dalam ruangan saja (indoor), memberi pakan yang lengkap dan seimbang,hindari memberi makanan berbahan mentah, serta segera memeriksakan kucing ke dokter hewan apabila dijumpai hal hal yang tidak wajar.

Adapun untuk kucing yang terlanjur terinfeksi bisa dilakukan hal hal seperti: menghindarkan menulari kucing lain (misal dengan mencegah kucing berkeliaran), apabila betina supaya disterilkan, memberi pakan yang lengkap dan seimbang, hindari memberi makan bahan mentah.

Kucing Kehilangan Kekebalan Tubuh Karena Feline Immunodeficiency Virus