Perilaku Destruktif Pada Kucing

Dua macam perilaku destruktif atau merusak yang paling umum pada kucing adalah : kebiasaan mencakar perabot atau alat alat rumah tangga dan kebiasaan memakan benda benda yang bukan untuk dimakan ( misalnya pita, kabel,kaos kaki, dll).

Mencakar perabot rumah seperti meja dan kursi dan terkadang juga sepatu,sandal atau tas bisa jadi merupakan ekspresi kucing untuk menunjukkan kepemilikan atas benda atau wilayah disekitar benda tersebut, dengan mencakar kucing seolah olah ingin mengatakan bahwa benda yang dicakar tersebut adalah miliknya. Sebagaimana kita ketahui di sekitar tapak kucing terdapat kelenjar bau yang akan memberi tanda berupa bau dan goresan pada benda benda yang yang disentuhnya. Dengan kata lain mencakar adalah salah satu cara kucing untuk menandai wilayahnya.

Penyebab lain kucing suka mencakar adalah naluri alaminya untuk memotong dan mengasah kukunya.Sebagai binatang pemburu yang handal kuku yang tajam dan efektif adalah peralatan penting untuk berburu sehingga kucing selalu berusaha untuk mengasah kukunya supaya tetap tajam namun dan terlalu panjang yang akan menyulitkannya untuk berjalan atau berlari.

Untuk mencegah perilaku mencakar yang tidak pada tempatnya ini, sebaiknya kucing diberi media untuk mencakar cakar, saat ini banyak tersedia tiang cakaran (scratching post)baik yang berbentuk tiang ataupun yang dikombinasi dengan rumah kucing (cat condo).Untuk menghentikan kebiasaan kucing yang terlanjur suka mencakar cakar tersebut bisa dilakukan dengan memberi tanda tepuk tangan atau dengan menembak kucing dengan pistol air ketika melihat kucing berperilaku destruktif. Terdapat juga produk berupa sarung kuku kucing yang terbuat dari plastik (cat vinyl claw cover) sebagai penutup dari kuku kucing sehingga menghambat keinginan mencakar cakar. Sangat dianjurkan untuk mulai mengenalkan kucing pada “tiang cakaran” sedini mungkin.

Perilaku lain yang merusak adalah kebiasaan memakan benda benda yang sebenarnya bukan makanan seperti kabel telepon, pita, kaos kaki, kayu,plastik,dll. Perilaku ini lebih cenderung terjadi pada kucing kucing ras oriental seperti kucing siam. Untuk mengatasinya bisa dilakukan dengan menambah kandungan serat pada pakannya atau dengan menyediakan taman ramah kucing sehingga kucing bisa bermain main dan menggigit gigit serta mengunyah rumput atau tanaman kecil yang ada.   

Perilaku Destruktif Pada Kucing

Meminumkan Tablet Pada Kucing

Memberikan tablet pada kucing tidaklah semudah memberikan tablet pada anjing. Pada anjing seringkali tablet cukup diberikan dengan tangan melalui mulut dan langsung dikunyah, atau tablet dimasukkan kedalam potongan makanan. Beberapa kucing mau minum obat dengan trik ini, akan tetapi tidak semua kucing mau. Seringkali memberikan obat pada kucing menjadi hal yang sulit bagi pemilik kucing, apalagi ketika harus memberikan obat yang macamnya lebih dari satu atau harus diberikan beberapa kali dalam satu hari. Jika merasakan hal demikian, tidak perlu merasa aneh karena memang ada kucing yang sangat sulit sekali diberi obat bahkan oleh dokter hewan sendiri.

Bagaimana metode yang baik untuk memberi tablet pada kucing?

Melalui mulut. Tablet diletakkan di mulut kucing dekat pangkal lidah dengan harapan kucing akan segera menelan tablet tersebut. Hal ini kedengarannya mudah, terutama untuk kucing yang penurut.

Lebih kurang 25% kucing, tergolong kucing sangat penurut dan dapat dengan mudah diberi tablet dengan cara meletakkan tablet pada pangkal lidah. Sekitar 50% kucing bisa diberi minum tablet dengan cara demikian namun membutuhkan ketrampilan khusus dalam memberikannya. Sedangkan 25% sisanya tergolong sebagai kucing yang sangat sulit  atau tidak bisa diberi obat dengan cara demikian ( tanpa pemaksaan yang membuat stress kucing serta pemiliknya). Menghadapi hal demikian, cara cara dibawah boleh dicoba:

  1. Bersikaplah rileks dan berpikir positif bahwa kucing hal ini akan bisa dilakukan.
  2. Jika ada orang lain yang bisa dimintai tolong, mintalah orang tersebut untuk memegang dan menahan bahu kucing, dudukkan siku kucing pada posisi rileks.Fokuskan pada kaki depan supaya tidak bebas bergerak.
  3. Pegang tablet dengan jari atau dengan pinset plastik.
  4. Dengan tangan kiri ( atau sebaliknya pada mereka yang kidal) pegang kepala kucing dan posisikan kepala menengadah keatas membentuk sudut 45 derajat.
  5. Sentuhkan tangan atau jari  yang memegang obat pada mulut kucing dekat dengan gigi taring, biasanya mulut kucing akan terbuka sendiri tanpa banyak memaksa.
  6. Tarik kepala ke belakang sedikit lagi selama beberapa detik, jatuhkan tablet pada lidah bagian tengah.
  7. Biarkan mulut kucing tertutup selama beberapa detik.
  8. Apabila kucing menjilat jilat hidungnya, berarti pemberian tablet tersebut berhasil.
  9. Tablet yang diludahkan berarti pemberian tidak berhasil.
  10. Apabila gagal pada percobaan pertama, tidak perlu terburu buru untuk mengulangi lagi karena tablet sudah menjadi basah dan kucing menjadi lebih stress dan rewel serta cenderung makin keras penolakannya, tunggu beberapa saat.

Sebagai catatan, jangan mencoba melontarkan atau menjatuhkan tablet di bagian belakang mulut kucing karena kucing memiliki laring yang sensitif dan mudah kejang yang tentu saja berbahaya bagi kucing.

Memberikan tablet melalui atau dengan menyembunyikan didalam makanan bisa menjadi alternatif untuk kucing yang rewel atau apabila kesulitan dengan cara diatas. Biasanya obat tidak terpengaruh apabila dicampur dengan makanan, namun sangat dianjurkan untuk memastikannya dengan dokter hewan terlebih dahulu.

Ada kemungkinan kucing akan memakan makanannya namun tidak obatnya, untuk itu hal hal tersebut dibawah harus diperhatikan:

  1. Kemungkinan keberhasilan akan lebih tinggi pada kucing yang lapar. Apabila kucing biasa mendapat makanan secara terus menerus, ambilah makanan tersebut untuk beberapa waktu supaya kucing merasa lapar terlebih dahulu pada saat pemberian tablet.
  2. Tablet lebih muda disamarkan pada makanan yang basah. Apabila kucing tidak terbiasa makan makanan basah bisa dicoba diberi makanan kalengan untuk manusia seperti sarden, tuna, dll.
  3. Hancurkan tablet dengan menggunakan dua buah sendok.
  4. Campurkan tablet yang sudah dihaluskan tersebut dengan segumpal makanan basah yang akan diberikan.
  5. Berikan pada kucing.
  6. Apabila kucing mau memakannya, berikan tambahan makanan basah lagi namun tanpa diberi obat.
  7. Apabila kucing curiga atau pintar, sebelum diberi obat yang dicampur dalam makanan, berikan makanan tanpa obat terlebih dahulu.

Terdapat kemungkinan kucing harus diberi lebih dari satu macam obat secara bersamaan. Pada keadaan seperti ini biasanya dokter hewan akan mencampur obat terlebih dahulu dan mmasukkan dalam kapsul kosong. Obat ini dirancang untuk satu individu kucing secara tersendiri.

Meminumkan Tablet Pada Kucing

Mengartikan Suara Meong Kucing

Walaupun kucing identik dengan mengeong namun sebenarnya kucing tidak pernah mengeong kepada kucing lain, kecuali ketika masih bayi.Bayi kucing memang mengeong untuk mendapat perhatian induknya dan ketika beranjak besar kucing menggunakan alat komunikasi lain untuk “berbicara” dengan kucing lain misalnya dengan gerakan mata,ekor,telinga atau bagian tubuhnya yang lain.

Kucing tidak mengeong pada kucing lain kecuali ketika masih bayi
Kucing tidak mengeong pada kucing lain kecuali ketika masih bayi

Secara genetis beberapa jenis kucing mempunyai karakter rewel dan berisik (suka mengeong) sebaliknya ada juga kucing yang berkarakter pendiam.Kucing Siam adalah contoh kucing yang “berisik” sedangkan kucing Persia cenderung “pendiam”.Pada dasarnya ketika kucing mengeong bisa diartikan bahwa si kucing sedang berusaha untuk mengatakan sesuatu.

Arti dari suara meong kucing tidaklah bersifat universal atau tidak sama antara satu kucing dengan kucing lainnya sehingga sudah seharusnya pemilik adalah orang yang paling mungkin memahami arti suara “meong” dari kucingnya sendiri.Untuk membantu menerjemahkan suara meong dari kucing,hal hal berikut bisa dipakai sebagai acuan:

  • Sakit. Beberapa penyakit akan menyebabkan kucing merasa lapar dan haus atau kesakitan  sehingga terus menerus mengeong.Pada kucing yang sudah berusia lanjut terkadang mengalami gangguan ginjal dan kelenjar thyroid yang keduanya menyebabkan kucing rewel (mengeong) berkelanjutan.
  • Butuh Perhatian atau menginginkan sesuatu. Pada dasarnya kucing tidak suka kesepian dan jika mendapati kucing yang terus mengeong ada kemungkinan kucing tersebut sedang minta diperhatikan, ingin diajak bermain, ingin diusap rambutnya atau bahkan ingin diajak “berbicara”.  Untuk menghentikan kebiasaan ini (jika dikehendaki) bisa dilakukan dengan tidak menanggapi kucing yang mengeong tersebut dan hanya memberi perhatian ketika kucing tenang. Jika masih terus mengeong tinggalkan sendirian kucing tersebut(kucing yang kelelahan akan lebih tenang). Walaupun kucing ditinggalkan sendirian akan akan tetapi jangan sampai menelantarkan kucing tersebut dan luangkan cukup waktu yang berkualitas setiap hari untuk bermain main, mengelus ataupun berinteraksi dengan kucing tersebut.
  • Minta Makan. Ada kucing menjadi rewel dan banyak mengeong ketika melihat orang yang berjalan ke dapur ( karena berharap akan diberi sedikit makanan)atau ada juga yang menjadi rewel ketika mendekati waktu pemberian pakan. Apabila dirasa hal ini menjadi masalah, maka usahakan jangan memberi makan ketika kucing “rewel”,hanya berikan pakan ketika kucing bersikap tenang.
  • Memberi Salam. Tidak jarang kucing mengeong ketika melihat pemiliknya baru pulang di rumah atau bahkan mengeong ketika setiap melihat pemiliknya dirumah.Kebiasaan ini sulit dihilangkan dan ini lebih merupakan ekspresi kebahagiaan si kucing bertemu orang yang disayanginya.
  • Kesepian. Untuk menghentikan kebiasaan mengeong kucing yang terlalu lama ditinggal sendiri dirumah bisa dilakukan dengan menambah kucing lain sehingga menjadi teman atau dengan memberi mainan untuk merangsang kucing beraktifitas dan tidak merasa kesepian.
  • Stress. Kucing yang mengalami stress juga bisa menyebabkan kucing menjadi rewel,hal hal seperti  pindah rumah, mendapatkan teman(kucing) baru kedalam rumah yang sudah ada kucingnya atau ditinggal kucing lain yang dekat (misalnya anak,saudara atau induknya) bisa menyebabkan kucing rewel. Untuk mengatasinya cari penyebabnya dan berikan perhatian lebih.
  • Kucing lanjut Usia. Sama seperti pada manusia , kucing yang berusia lanjut terkadang mengalami gangguan mental dan menjadi rewel untuk alasan yang tidak jelas.
  • Birahi. Kucing yang tidak dikebiri bisa menjadi berisik ketika dalam siklus birahi, kucing jantan bisa meraung raung ketika mencium bau betina yang sedang birahi.

Selain hal hal tersebut diatas,terkadang kucing mengeong karena sebab yang memang masuk akal misalnya karena tidak bisa masuk ke litter box atau tempat minumnya kehabisan air,minta dibukakan pintu karena ingin keluar rumah , dll.Pada keadaan seperti ini  melakukan koreksi atas persoalan yang ada akan membuat kucing menjadi tenang.

Hindarkan memberi hukuman ada kucing yang rewel,membentak,memukul atau menyiram air tidak akan menyelesaikan masalah,untuk jangka panjang malah bisa membuat kucing takut dan akan menghindari kita.

Menangani kucing rewel memang tidaklah mudah dan membutuhkan kesabaran, walaupun pada awalnya nampak tidak berhasil (atau bahkan malah lebih parah) tetaplah terus berusaha dan jika perlu berikan hadiah jika kucing mau berperilaku baik maka secara perlahan kucing akan mengerti dan merubah perilakunya.

Mengartikan Suara Meong Kucing

Vincent, Kucing Dengan Kaki Palsu Berbahan Titanium

Vincent, yang saat ini berumur 3 tahun adalah kucing yang sangat beruntung. Kucing ini kehilangan kedua kaki belakangnya ketika masih kecil namun saat ini sudah mendapatkan sepasang kaki palsu dari bahan aluminium titanium yang langka. Diseluruh dunia, pada saat ini hanya ada sekitar 25 ekor binatang yang memiliki kaki palsu seperti ini.

Kisahnya dimulai ketika Cindy Jones seorang wanita yang bekerja di tempat penampungan hewan terlantar memperhatikan seekor kucing berumur satu bulan di tempat penampungan hewan tempatnya bekerja, kucing kecil itu menarik perhatiannya karena tidak mempunyai kaki belakang. Tidak diketahui dengan pasti apa sebab dia kehilangan kakinya. Cindy kemudian membawanya pulang kerumahnya untuk dirawat sendiri sambil memikirkan langkah apa yang bisa diperbuatnya untuk merawat kucing yang malang ini. Cindy membawa kucing tersebut ke Dr. Mary Sarah Bergh, seorang profesor bedah tulang pada Iowa State University.  Di tempat penampungan hewan, biasanya kucing dengan kondisi fisik seperti Vincent ini tidak mempunyai masa depan lagi, namun Cindy meminta Dr. Bergh untuk melakukan apa saja yang mungkin dilakukan untuk kebaikan Vincent.

Dr. Mary Sarah Bergh yang sudah sangat berpengalaman menangani berbagai kasus luka pada binatang pada awalnya merencanakan terapi fisik untuk Vincent,namun karena tidak berhasil dengan baik pada akhirnya menyimpulkan bahwa hanya terapi menggunakan kaki palsu yang paling memungkinkan bagi Vincent untuk dapat menjalani kehidupan normal sebagai seekor kucing.

Dr. Bergh kemudian bekerja sama dengan BioMedtrix, sebuah perusahaan ortopedi binatang yang menyumbangankan material untuk eksperimen ini, serta merancang implan dari titanium yang bisa ditanamkan atau disisipkan kedalam tulang paha Vincent serta keluar menembus kulitnya.

Desain kaki palsu ini memungkinkan tulang vincent tumbuh kedalam batang titanium untuk menopang berat tubuhnya. Akan tetapi desain batang titanium yang menonjol keluar tubuh menyebabkan sangat riskan bagi Vincent untuk mendapat infeksi, untuk itu Dr. Bergh menyemprotkan antibiotika dua kali sehari untuk mencegah infeksi.

Vincent menjalani operasi pertama kali pada bulan februari 2014, satu tahun kemudian dia menjalani operasi tahap kedua dimana secara bertahap batang kaki palsunya diperpanjang. Pada akhirnya diharapkan Vincent akan mempunyai kaki belakang yang panjangnya kurang lebih sama dengan panjang kaki kucing normal. Penambahan panjang secara bertahap diperlukan karena Vincent dan tulangnya perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan berat dan panjang kaki palsunya. Pemasangan kaki palsu yang langsung panjang, akan membuatnya stress dan sulit bergerak.

Menurut Dr. Bergh, sejauh ini perkembangan Vincent sangat menggembirakan dan implan nya dapat terpasang dengan stabil, diharapkan setelah dua kali perpanjangan kaki lagi  dia diharapkan bisa berjalan jalan dengan hanya sedikit mengalami kesulitan dan bahkan diharapkan dia bisa melompat. Eksperimen dengan Vincent ini akan membantu para ahli bedah tulang binatang untuk membuat implant yang lebih praktis untuk diaplikasikan pada binatang. Menurutnya bidang ini merupakan bidang yang akan berkembang pesat di masa yang akan datang.

Vincent, Kucing Dengan Kaki Palsu Berbahan Titanium

Menangani Kucing Diare

Seperti juga pada manusia, kucing terkadang mengalami gangguan kesehatan dan diare adalah salah satu gangguan kesehatan yang biasa dijumpai pemilik kucing. Gejala diare sangatlah mudah diamati. Pada kucing yang sehat, tinja biasanya padat dan mempunyai bentuk yang jelas sedangkan pada kucing menderita diare tinja akan lunak, berair atau bahkan cair disertai peningkatan jumlah dan frekuensi pengeluaran tinja yang terkadang disertai rasa sakit ketika mengeluarkan tinja (ditandai dengan kucing mengejan atau menjerit ketika buang air besar). Pada keadaan diare, warna tinja bisa berubah lebih terang atau lebih gelap dibandingkan warna tinja normal.

ilustrasi pemberian obat pada kucing
ilustrasi pemberian obat pada kucing

Gejala Diare

Gejala diare bervariasi menurut tingkat keparahannya, bagian usus yang mengalami gangguan juga menentukan gejala yang ditunjukkan oleh kucing penderita, misalnya gangguan pada usus besar (kolon) akan menyebabkan gejala meningkatnya frekuensi pengeluaran tinja, terkadang disertai lendir atau darah, juga disertai sikap mengejan. Diare bisa terjadi secara akut (mendadak) atau kronis (berlangsung selama beberapa minggu). Pada keadaan tertentu bisa dijumpai darah dalam tinja kucing penderita diare.

Apabila kucing tidak memiliki litter box (kotak pasir) di dalam rumah, bentuk dan kondisi tinja mungkin sulit diamati. Pada keadaan seperti ini, kondisi kucing yang nampak lemah, pendiam,lesu dan turunnya berat badan mungkin lebih mudah untuk diamati. Pada keadaan yang parah, kucing tidak dapat menahan diri untuk buang air sehingga ceceran kotoran (tinja) bisa dijumpai dimana mana (termasuk didalam rumah) atau noda kotoran atau tinja juga bisa diamati pada bulu sekitar ekor kucing.

Penyebab diare

Diare bukanlah sebuah penyakit, namun lebih merupakan gejala dari adanya ketidaknormalan pada tubuh kucing. Pada umumnya diare pada kucing disebabkan hal hal berikut:

  1. Perubahan pakan secara mendadak bisa menyebabkan munculnya diare ringan atau diare yang bersifat sementara. Hal ini biasa terjadi pada kucing muda yang diberi pakan yang tidak sesuai untuk umurnya, pada kucing dewasa yang dibiarkan ke luar rumah ada kemungkinan kucing memakan makanan yang sudah membusuk. Pemberian susu juga bisa menyebabkan diare ringan dikarenakan kucing tidak bisa mencerna laktosa dengan baik.
  2. Beberapa agen infeksi yang bisa menyebabkan diare misalnya: virus ( feline parvovirus, feline infectious peritonitis, feline leukemia virus, feline corona virus), bakteri( salmonella dan campylobacter), parasit (Giardia,Tritrichomonas,coccidia dan juga cacing). Diare yang disebabkan oleh agen infeksi biasanya menyerang lebih dari satu kucing pada satu rumah dan terutama menyerang kucing yang masih muda.
  3. Walaupun jarang terjadi akan tetapi alergi pada jenis pakan tertentu bisa menyebabkan diare pada kucing.
  4. Adanya peradangan pada dinding usus kucing akan menyebabkan terjadinya diare kronis (berlangsung lebih dari satu minggu), bisa terjadi secara terus menerus atau bisa juga terjadi secara berulang dengan disertai gejala muntah.
  5. Pada kucing yang sudah tua, tumor usus (biasanya lymphoma dan adenocarcinoma) akan menyebabkan gangguan penyerapan makanan dan atau menyebabkan terjadinya sumbatan pada usus yang selanjutnya mengakibatkan diare pada kucing.
  6. Gangguan pada pangkreas yang seharusnya menghasilkan enzim untuk mencerna makanan akan menyebabkan makanan tidak dapat dicerna dengan baik dan mengakibatkan terjadinya diare.
  7. Walaupun belum diketahui dengan jelas mekanismenya, terdapat hubungan antara kekurangan vitamin B12 (cobalamin)dengan diare pada kucing.

Tindakan Yang Bisa Dilakukan Ketika Menghadapi Kucing Diare

Tergantung dari penyebab dan tingkat keparahannya, beberapa kasus diare tidak harus selalu ditangani dokter hewan dengan segera. Walaupun terdapat gejala peningkatan frekuensi dan jumlah tinja yang dikeluarkan dengan bentuk yang tidak normal, akan tetapi apabila kucing masih nampak ceria dan masih mau beraktifitas normal, maka pemilik kucing bisa melakukan perawatan sendiri dirumah.

Beberapa tindakan dibawah bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama ketika kucing mengalami diare:  

  1. Puasakan kucing selama 12 – 24 jam, namun air minum tetap diberikan secara tidak terbatas. Kucing muda cukup dipuasakan 12 jam. Pemuasaan bertujuan akan meredakan gejala diare, namun perlu dicatat bahwa pemuasaan tidak boleh lebih dari 24 jam karena akan berakibat buruk pada kucing.
  2. Berikan larutan elektrolit yang bisa dibuat sendiri dengan mencampur 900 ml air bersih dengan satu sendok makan gula dan satu sendok teh garam, letakkan pada tempat minum yang biasa dipakai kucing. Apabila kucing masih mau minum sendiri biarkan kucing minum sepuasnya, namun apabila kucing nampak malas minum sendiri berikan (teteskan) menggunakan alat suntik tanpa jarum atau menggunakan sendok kecil. Larutan ini akan membantu mengganti cairan yang hilang karena diare.
  3. Untuk meredakan gejala diare bisa diberikan “Norit”. Norit adalah obat sakit perut untuk manusia yang mudah dijumpai di apotek, toko obat maupun minimarket dengan harga murah. Berupa tablet yang berwarna hitam legam,merupakan karbon aktif (activated charcoal) yang dibuat dari bahan tumbuh tumbuhan yang diaktifkan. Bekerja dengan cara menyerap toksin atau produk bakteri dalam saluran pencernaan, oleh karena tidak diserap tubuh sehingga sangat aman dipakai bahkan jika kelebihan dosis.  Cara pemberian adalah dengan mencampur 1 (satu) tablet Norit 125 gr dengan 10 (sepuluh)ml air putih. Untuk kucing kecil berikan 0,5 (setengah) ml larutan, sedangkan untuk kucing dewasa bisa diberikan 1 (satu)ml larutan, berikan 3 – 4  kali sehari. Perlu diketahui setelah pemberian Norit maka tinja kucing akan berwarna hitam, ini adalah normal dan tidak perlu dikhawatirkan.
  4. Setelah pemuasaan,secara bertahap berikan pakan yang lunak dan mudah dicerna, misalnya daging ayam atau ikan yang direbus ( bisa dicampur dengan nasi putih).
  5. Dengan resep dari dokter hewan, apabila diduga diare disebabkan karena agen infeksi (bakteri atau jamur) maka dimungkinkan diberikan antibiotika atau anti parasit.Demikian juga dengan obat anti inflamasi untuk meredakan diare yang disebabkan adanya peradangan pada usus kucing. Apabila ada indikasi kekurangan vitamin B12 maka bisa diberikan suplemen vitamin B12.

Diare yang ringan biasanya dapat mudah disembuhkan tanpa perawatan khusus dari dokter hewan. Namun apabila dalam waktu 48 jam tidak ada perubahan berarti, atau apabila kucing nampak lesu,muntah dan nampak mengalami depresi, serta mengalami dehidrasi maka kucing harus segera dibawa ke dokter hewan. Cara mudah untuk mengetahui adanya dehidrasi adalah dengan mencubit dan menarik kulit kucing, apabila setelah dicubit dan ditarik – kulit kucing tidak segera kembali (tidak elastis) berarti kucing mengalami dehidrasi.

Secara umum menemukan dan mengobati penyebab utama diare sangat penting untuk mencegah terjadinya diare berkepanjangan yang akan mengganggu usus kucing secara permanen.

Referensi

  1. artikel Drugs Used In Treatment of Diarrhea (Monogastric) pada www.merckvetmanual.com
  2. artikel Diarrhea in Cats pada www.vcahospitals.com
  3. artikel Diarrhoea in the cat pada www.icatcare.com
  4. artikel Diarrhea in Cats and Kittens pada www.catsofaustralia.com

 

Menangani Kucing Diare