Kitten Fading Syndrome,Kematian Kucing Pada Usia Dini

Dari beberapa kucing yang sering “bertamu” ke rumah ada seekor kucing betina yang saya perkirakan berusia empat atau lima tahunan. Kucing ini seringkali nampak hamil (dan kemudian melahirkan), akan tetapi setiap kali melahirkan dia selalu membawa anaknya ke tempat yang tersembunyi, karena jarang sekali dia memperlihatkan anak anaknya maka saya menduga sebagian besar dari anak anaknya telah mati di awal awal usianya.

Kematian bayi kucing di usia yang sangat muda (kurang dari 2 minggu) seringkali disebut dengan “kitten fading syndrome” atau barangkali bisa saya terjemahkan sebagai sindroma kematian bayi kucing.Penggunaan kata sindroma mengacu pada penyebab kematian yang lebih dari satu kemungkinan.

Bayi kucing yang terkena sindrom ini menunjukkan gejala gejala yang bervariasi (tidak menciri pada gejala tertentu), misalnya : lemah, berat badan tidak naik, memisahkan diri dari saudara saudaranya yang lain,tidak mau menyusu, suhu tubuh dibawah normal, nampak kesulitan bernafas,diare,dehidrasi.

Sebagai referensi berat badan bayi kucing yang normal akan bertambah lebih kurang 10 setiap harinya, sedangkan suhu tubuh bayi kucing yang normal 35,5C – 37,8C.

Penyebab dari sindrom ini bermacam macam, baik yang bersifat menular maupun tidak menular.

Penyebab yang tidak menular diantaranya:

  1. Cacat bawaan seperti adanya lobang pada langit langit mulut (cleft palate), hernia umbilicalis, dll.
  2. Suhu lingkungan yang ekstrem (terlalu panas atau terlalu dingin) terutama pada minggu pertama karena sistem tubuh bayi kucing belum mampu mengatur suhu tubuh nya sendiri.Suhu ideal disekitar bayi kucing untuk dua minggu pertama sekitar 26 – 30C.
  3. Induk mengabaikan bayinya, hal ini bisa disebabkan karena induknya sakit, gugup atau tidak berpengalaman.
  4. Lahir prematur dengan berat badan rendah, jika hanya satu anak saja yang kecil bisa jadi hal ini disebabkan gangguan tali pusat namun jika semua anak lahir kecil maka kemungkinan karena induknya kurang cukup mendapat nutrisi.
  5. Distokia atau kesulitan melahirkan sehingga proses melahirkan menjadi lama.
  6. Tidak cukup ASI (Air Susu Induk)
  7. Neonatal isoerythrolysis, keadaan dimana sel darah merah dari bayi kucing dimakan oleh antibodi yang didapat dari induknya.
  8. Jumlah anak yang terlalu banyak
  9. Bayi kucing yang kecil Kalah berkompetisi dengan saudaranya yang lain.
  10. Induk kurang nutrisi
  11. Penyebab yang bersifat  menular diantaranya

Karena bayi kucing menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur, maka adanya abnormalities atau ketidakwajaran dalam perilaku seperti : menjauh dari saudaranya yang lain, tidak mau menyusu, terus menerus menangis,lemah, muntah, diare pada bayi kucing haruslah mendapat perhatian lebih.

Jika memungkinkan anak kucin ditimbang setiap hari,  bayi normal akan bertambah berat badannya 5 – 10 gram per hari. Beberapa tahapan perkembangan bayi kucing bisa disingkat sebagai berikut:

Usia 0 – 3 hari, tali pusat masih melekat, mata menutup sampai 10 hari, pada umur 2 minggu mata mulai terbuka, mulai berjalan, gigi mulai keluar dan telinga mulai terbuka.

Penanganan tergantung pada penyebabnya, dokter mungkin akan memberikan antibiotika, anti parasit, terapi infus atau terapi yang lain tergantung pada kondisi kucing.

Walaupun penanganan dilakukan dengan baik, namun terkadang kondisi kucing sudah terlalu lemah untuk ditangani, sehingga sangatlah penting untuk berkonsultasi dengan dokter hewan paa saat pertama kali terlihat gejala tidak normal.

 

Kitten Fading Syndrome,Kematian Kucing Pada Usia Dini

Kucing Pedigree

Bagi para penyuka kucing (cat lover), kata pedigree  tentulah sudah tidak asing lagi. Pedigree pada awalnya mempunyai pengertian sertifikat yang mencatat asal usul (ayah dan ibu ) dari seekor kucing, namun seiring dengan waktu pengertian pedigree sering rancu dengan purebreed (galur murni). Pada saat ini gambaran umum tentang kucing pedigree adalah kucing yang,istimewa,cantik, indah dan tentu saja harga yang mahal.

Secara sederhana bisa dikatakan bahwa kucing pedigree adalah kucing yang mempunyai silsilah yang jelas dan tercatat, sedangkan kucing yang tidak jelas silsilah nya dan merupakan campuran dari berbagai ras kucing biasa disebut sebagai moggie.

Sejarah pertemanan kucing dengan manusia sudah dimulai sejak 4000 tahun yang lalu, dimana pada awalnya kucing hanya dipelihara sebagai

hewan penjaga hasil panen dari serangan tikus. Kucing kemudian berkembang biak dan beranak pinak secara alami tanpa campur tangan manusia . Pada abad 18 di Eropa mulai dikenal adanya kontes kucing (cat show), pada saat inilah mulai muncul minat dan kesukaan atas sifat sifat,karakteristik atau tingkah laku tertentu dari kucing.

Pada abad ke 18 pula ilmu biologi mulai berkembang pesat,tokoh ilmuwan legendaris diantaranya Darwin dengan teori evolusi dan juga Mendell yang meletakkan dasar dasar ilmu genetika modern.Pada saat itu mulai dipahami bahwa sifat dan karakter seekor anak kucing bisa ditebak berdasarkan sifat induk dan ayahnya. Dengan kata lain pengaturan perkawinan kucing bisa diarahkan untuk menghasilkan anak kucing dengan sifat dan karakter yang diinginkan. Sejak saat itu mulai muncul apa yang sekarang kita kenal sebagai cat breeding.  

Beberapa jenis kucing yang saat ini terkenal merupakan hasil breeding diantaranya kucing persia yang merupakan keturunan  dari kucing Angora. Adapun kucing exotic shorthair yang merupakan hasil persilangan kucing persia yang berambut panjang dengan kucing American Shorthair yang berambut pendek sehingga menghasilkan kucing berwajah bulat seperti kucing persia namun berambut pendek sehingga tidak memerlukan grooming intensif seperti kucing persia.

Untuk mendapatkan breed (jenis) kucing baru yang kita kenal sekarang, breeder melakukan beberapa hal:

  1. Mengawinkan kucing dengan sifat sifat dan karakter yang sama dan mengembangkannya menjadi breed (jenis) kucing tertentu, misalnya kucing persia yang merupakan pengembangan dari kucing breed Angora.
  2. Mengawinkan kucing yang mempunyai kelainan genetis (misalnya kaki yang pendek, telinga yang terlipat atau rambut yang sedikit) dengan kucing lain untuk menghasilkan kucing breed (jenis) baru, contoh: Kucing sphinx yang memiliki rambut sedikit.
  3. Mengawinkan kucing dengan breed yang berbeda untuk menghasilkan breed (jenis) baru, contohnya kucing breed persia dikawinkan denga breed American Shorthair menghasilkan breed Exotic Shorthair.
  4. Menyilangkan spesies lain dengan kucing untuk menghasilkan breed baru, misalnya kucing bengal yang merupakan hasil persilangan antara kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dengan kucing rumah biasa.

Kucing hasil persilangan dari ayah dan induk yang diketahui dengan pasti “breed”nya tersebut kemudian didaftarkan pada lembaga sertifikasi kucing yang resmi untuk mendapatkan “pedigree” atau lebih kurang bisa disebut sebagai akta kelahiran.

Dengan demikian tidaklah tepat kalau kucing pedigree disebut sebagai kucing istimewa dibandingkan dengan kucing moggie namun lebih tepat disebut sebagai kucing yang berbeda,kucing pedigree mempunyai asal usul dari breed tertentu yang jelas sedangkan kucing moggie berasal dari campuran dari berbagai macam breed.

Baik kucing pedigree maupun kucing moggie keduanya mempunyai sifat sifat dasar seekor kucing yang sama.

Kucing Pedigree

Bisakah Kucing Berambut Pendek Melahirkan Anak Berambut Panjang?

Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan di FB dari seorang pemilik kucing yang mengawinkan seekor kucing betina berambut pendek dengan kucing jantan persia yang berambut panjang dengan harapan mendapat keturunan kucing yang berambut panjang juga, akan tetapi setelah si betina hamil dan akhirnya melahirkan, ternyata semua keturunannya berambut pendek. Bagaimana hal ini bisa terjadi?, apakah mungkin pasangan kucing tersebut melahirkan anak kucing yang berambut panjang?,atau seberapa besar peluang untuk mendapatkan keturunan kucing berambut panjang?

Pada dasarnya sifat fisik dan non fisik pada seekor kucing ditentukan oleh apa yang disebut sebagai gen. Gen sendiri merupakan suatu struktur kimia yang rumit yang kemudian berkaitan membentuk rantai dan disebut kromosom. Kromosom merupakan salah satu komponen dalam sel mahluk hidup (termasuk kucing) dimana didalamnya terkandung cetak biru yang akan menentukan sifat dan penampilan dari mahluk hidup tersebut.  

Sel tubuh kucing mempunyai 19 pasang atau 38 buah kromosom sedangkan sel kelamin (sperma atau ovum) hanya memiliki separuhnya ( 19 buah) kromosom. Sel kelamin hanya memiliki separuhnya karena ketika terjadi perkawinan antara jantan dan betina maka sperma dan ovum akan bersatu membentuk sel baru yang kembali memiliki 38 kromosom. Dengan demikian secara sederhana dapat dikatakan bahwa sifat dan penampilan seekor kucing ditentukan oleh 19 buah kromosom yang didapat dari ayah dan 19 buah kromosom yang didapat dari induknya.

Pada seekor kucing terdapat ribuan gen yang menentukan berbagai sifat dan penampilan kucing dan salah satunya adalah untuk menentukan rambut kucing pendek atau panjang.Sebuah gen mempunyai sepasang alela yang biasanya diberi simbol dengan sebuah huruf, satu alela didapat dari ayah dan satu alela didapat dari ibu. Alela dari gen yang mengatur  rambut kucing biasa diberi simbol L (untuk memunculkan tampilan rambut pendek) dan l (untuk memunculkan tampilan rambut panjang). Simbol l (huruf kecil) menunjukkan sifat resesif atau sifat yang tidak nampak apabila ada alela yang dominan (L).

Karena rambut panjang bersifat resesif, maka hanya kucing dengan kombinasi alela ll yang bisa memunculkan tampilan rambut panjang. Adapun tampilan kucing yang berambut pendek bisa berasal dari kombinasi Ll dan LL.Sayangnya kita tidak bisa mengetahui kombinasi alela dalam gen seekor kucing berambut pendek (apakah Ll ata LL) hanya dengan melihat penampilan fisik nya saja.

Jika seekor kucing jantan berambut panjang kawin dengan betina berambut panjang yang mana keduanya mempunyai kombinasi alela ll, maka masing masing kucing tersebut akan menyumbangkan satu alela (l) untuk anaknya, maka semua anaknya akan mempunyai gen dengan susunan alela ll (berambut panjang).Dengan demikian bisa dikatakan bahwa pasangan kucing berambut panjang akan menghasilkan keturunan yang pasti berambut panjang juga.

Jika seekor kucing berambut pendek dengan kombinasi alela LL dikawinkan dengan seekor kucing berambut panjang dengan alela ll maka kemungkinan kombinasi alela anak anaknya adalah :Ll ( rambut pendek),Ll(rambut pendek),Ll (rambut pendek),Ll (rambut pendek), dengan kata lain 100% anaknya akan berambut pendek.

Keadaan akan berbeda apabila kucing berambut pendek terebut mempunyai kombinasi alela Ll,yang mana apabila dikawinkan dengan kucing berambut panjang ( kombinasi alela ll) maka kemungkinan susunan alela anaknya akan menjadi: Ll (rambut pendek),Ll (rambut (pendek),ll (rambut panjang),ll (rambut panjang).Dengan demikian bisa dikatakan bahwa apabila kucing berambut pendek dengan susunan alela Ll dikawinkan dengan kucing berambut panjang, maka kemungkinan anaknya berambut panjang adalah 50% dan sisanya berambut pendek.

Demikian juga apabila kucing berambut pendek dengan kombinasi alela Ll dikawinkan dengan kucing berambut pendek dengan kombinasi alela yang juga Ll  maka anak anaknya akan mempunyai kombinasi alela : LL (pendek),Ll (pendek),Ll (pendek),ll (panjang). Dengan kata lain pasangan ini mempunyai anak dengan kemungkinan berambut panjang 25% dan kemungkinan berambut pendek 75%. Jadi tidak aneh apabila sepasang kucing berambut pendek melahirkan anak yang berambut panjang.

Adapun kucing yang berambut pendek dengan kombinasi alela Ll jika kawin dengan rambut pendek dengan kombinasi alela LL maka kemungkinan kombinasi alela anaknya adalah : LL (pendek) ,Ll (pendek),Ll (pendek) dan Ll (pendek). Dengan kata lain 100% anaknya akan berambut pendek.

Dengan berdasarkan teori genetika sederhana tersebut diatas, secara teoritis bisa dikatakan bahwa apabila kita menginginkan anak kucing yang berambut panjang atau berambut pendek bisa dengan mengatur pasangan ayah dan induknya.  

 

Bisakah Kucing Berambut Pendek Melahirkan Anak Berambut Panjang?

Luka Pada Kucing Karena Rambutnya Kurang Terawat

Seorang teman mempunyai kucing keturunan persia betina umur lebih kurang satu tahun yang nampak lesu dan tidak mau bermain main (tidak lincah), pada kucing tersebut nampak ada luka di dekat ekornya yang pada awalnya saya pikir ini adalah luka biasa akibat gigitan kucing lain ketika berkelahi.

Setelah melihat langsung kondisi kucing,ternyata terdapat luka yang cukup besar pada bagian ekor dan juga disekitar perutnya, kucing dalam kondisi lemah dan tidak mau makan serta minum. Melihat kondisi luka yang sudah bernanah dan bahkan sudah terdapat larva lalat didalamnya , saya menduga luka ini sudah ada selama beberapa hari.

Singkatnya sang pemilik kucing karena kesibukannya tidak sempat menyisir rambut kucingnya apalagi memandikan nya selama dua minggu atau bahkan lebih padahal penting untuk diingat bahwa kucing keturunan persia dengan rambut panjangnya mutlak memerlukan bantuan manusia untuk mengurus rambutnya, dengan kata lain rambut panjang kucing ini perlu secara teratur disisir atau disikat dan secara rutin dimandikan.  

Rambut panjang kucing persia (atau keturunan persia) jika tidak terawat akan menyebabkan kusut dan menggumpal dan ini akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi si kucing karena gatal dan bahkan bisa menjadi tempat yang baik buat kuman bersembunyi. Rasa tidak nyaman dan gatal tersebut mendorong kucing untuk menjilat jilat sampai menggigit yang pada akhirnya ketika dilakukan berlebihan menyebabkan luka.

Karena tidak ditangani dengan segera luka tersebut kemudian terkena infeksi bakteri (infeksi sekunder). Adanya infeksi bakteri menyebabkan munculnya proses peradangan sehingga kucing merasa tidak nyaman, malas bergerak dan tidak mau makan sehingga kondisinya melemah.Keadaan diperburuk karena kucing yang lesu tidak mau mengusir lalat yang menghinggapinya sampai lalat tersebut bertelur didalam lukanya dan menetas menjadi larva.

Karena kucing dalam keadaan lemas dan tidak mau maka saya memberikan terapi cairan dengan cara diinfus, lukanya sendiri dibersihkan dengan menggunakan larutan antiseptik (dalam hal ini Rivanol yang dijual bebas di apotik) untuk membersihkan jaringan yang rusak dan sisa sisa peradangan. Setelah luka menjadi bersih maka selanjutnya tubuh kucing akan bereaksi untuk menumbuhkan jaringan baru sebagai pengganti jaringan yang rusak. Setelah memberikan antibiotika secukupnya, pemilik kucing melanjutkan sendiri pengobatan dengan cara mengkompres luka tersebut dengan kain kasa yang dibasahi rivanol setiap hari selama 5 menit. Setelah 4 hari luka sudah mulai tampak mengecil dan jaringan baru tumbuh.

Kucing persia adalah kucing hasil pemuliaan manusia, nenek buyutnya adalah kucing angora yang juga berambut panjang. Orientasi dari pembiakan kucing persia adalah penampilan fisik yang cantik dan menarik seperti yang ada sekarang ini, sayangnya kucing ini memiliki beberapa kelemahan diantaranya adalah ketergantungan pada manusia untuk merawat rambutnya. Sangatlah penting untuk pemilik kucing berambut panjang (khususnya keturunan persia) untuk meluangkan waktu merawat rambut panjangnya, karena kucing persia tidak mampu mengurus rambutnya sendiri dan mutlak memerlukan bantuan manusia.

Jadi begitu kita berkomitmen untuk memelihara kucing rambut panjang (longhair), maka pada saat itu kita harus berkomitmen untuk rutin merawat rambutnya, tidak bisa tidak.

Luka Pada Kucing Karena Rambutnya Kurang Terawat

Cat Scratch Disease,Penyakit Cakaran Kucing

Penyakit Cat Scratch Disease (SCD) atau bisa diterjemahkan sebagai Penyakit cakaran kucing mungkin tidak begitu populer, namun karena sifatnya yang zoonosis atau menular dari hewan ke manusia maka penting bagi kita untuk mengetahuinya. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bartonella henselae dan kucing disini hanya berperan sebagai reservoir saja. Selain kucing, anjing juga berperan sebagai perantara dari bakteri B.henselae tersebut.

Sebenarnya penyakit ini tidak berakibat fatal bagi manusia dan bahkan sering bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan khusus. Akan tetapi pada keadaan tubuh lemah dan minim zat kebal (misalnya pada penderita HIV), maka penyakit ini bisa menjadi serius.

Manusia bisa tertular bakteri Bartonella henselae jika digigit atau dicakar kucing/anjing yang terinfeksi bakteri ini. Selain gigitan penularan juga bisa terjadi apabila kucing yang terinfeksi menjilat kulit yang memiliki luka terbuka.

Pada manusia, gejala CSD biasanya muncul 7 – 14 hari setelah terjadinya gigitan. Gejala berupa benjolan kemerahan pada area gigitan,pembesaran kelenjar getah bening terdekat dari lokasi gigitan, demam ringan, menggigil,kelelahan,nafsu makan turun, otot terasa pegal dan mual mual. Karena gejalanya yang cenderung ringan bersifat umum tersebut barangkali penyakit ini tidak begitu populer (tidak sepopuler rabies misalnya).

Pada kucing sendiri infeksi bakteri Bartonella henselae kebanyakan tidak menunjukkan gejala apapun kalaupun muncul demam biasanya akan sembuh sendiri setelah 2 – 3 hari. Pada kejadian yang lebih serius (tapi sangat jarang terjadi) kucing menunjukkan gejala demam, mual dan muntah, mata kemerahan, lesu dan nafsu makan yang berkurang. Bakteri bisa bertahan selama berbulan bulan dalam darah kucing tanpa gejala dan baru akan nampak apabila kucing mengalami stress atau kekebalannya menurun akibat adanya penyakit lain.

Penularan bakteri Bartonella henselae pada kucing terkait dengan pinjal dan kutu, dimana bakteri menyebar melalui kotoran pinjal yang menempel pada kulit kucing dan kemudian tertelan kucing ketika grooming (menjilat). Pada manusia selain gigitan kucing, secara teoritis juga bisa menular melalui gigitan pinjal secara langsung.

Pada kucing yang terinfeksi bakteri Bartonella pengobatan bisa dilakukan dengan pemberian antibiotika dan pencegahan yang paling murah bisa dilakukan dengan menjaga agar kucing tidak memiliki kutu atau pinjal dengan cara menjaga kebersihannya serta rutin melakukan grooming dan pengobatan terhadap parasit.

Sedangkan pada manusia, apabila mengalami gejala tersebut diatas setelah digigit atau dicakar kucing maka segeralah menghubungi dokter terdekat.

Cat Scratch Disease,Penyakit Cakaran Kucing