Memelihara Kucing Tidak Cukup Hanya Dengan Memberi Makan dan Minum

Bukan hal yang tidak mungkin, jika seekor kucing yang ketika masih anakan nampak lucu dan menggemaskan berubah menjadi kucing yang tingkah lakunya menjengkelkan ketika dia beranjak dewasa , bahkan bisa sampai membuat pemilik berkeputusan untuk membuang kucing tersebut. Problem yang berkaitan dengan tingkah laku seringkali muncul akibat tidak atau kurang terpenuhinya kebutuhan lingkungan si kucing. Terdapat hal hal yang harus kita sediakan untuk menjamin kucing supaya tetap bisa mengekspresikan sifat alami yang dimilikinya.

Kebutuhan lingkungan kucing bukan hanya hal hal yang bersifat fisik disekitarnya, namun juga hal hal yang bersifat non fisik seperti interaksi dengan pemilik atau dengan hewan lain disekitarnya.Kebanyakan kucing tidak menunjukkan gejala yang jelas ketika mengalami stres,merasa sakit ataupun nyeri – sehingga pemilik tidak cepat mengetahui adanya ketidak beresan dengan kucingnya. Dengan sikap proaktif dan dengan menyediakan kebutuhan lingkungan dasar bagi kucing kita bisa menghindarkan kucing dari stress dan problem lingkungan lainnya yang bisa berkembang menjadi problem kesehatan. Lanjutkan membaca “Memelihara Kucing Tidak Cukup Hanya Dengan Memberi Makan dan Minum”

Memelihara Kucing Tidak Cukup Hanya Dengan Memberi Makan dan Minum

Perilaku Sosial Kucing

Kucing biasa dianggap binatang yang lucu, menggemaskan dan manja. Karena rambutnya yang bersih dan sifatnya yang tenang maka kucing menjadi binatang piaraan ideal yang disukai banyak orang. Biasanya kucing mudah menerima atau tidak takut ketika bertemu dengan orang yang baru dikenal,akan tetapi terkadang kita menjumpai kucing yang bersikap marah atau takut terhadap orang yang baru dikenal. Untuk memahami sifat ini kita perlu memahami dasar dasar perilaku sosial dari seekor kucing.

25932595495_49066684e7_z
Foto milik Tracie Hall dari flickr.com/ CC BY SA 2.0

Kita mengenal kucing sebagai binatang soliter atau penyendiri dan tidak suka bersosialisasi dengan hewan atau kucing lain, walaupun demikian sebenarnya sifat sosial kucing sangatlah fleksibel tergantung pada tempat dan situasi. Di alam bebas, keluarga kucing memang pada dasarnya tergolong sebagai nonsocial predator (pemangsa yang tidak suka bersosialisasi) dan biasanya merupakan berburu sendirian (kecuali keluarga singa yang berburu dalam kelompok). Namun apabila terdapat makanan dalam jumlah banyak di suatu tempat ( yang biasanya karena ada manusia) maka kucing seringkali hidup berkelompok dalam jumlah banyak. Di dalam rumah tangga, kucing lebih cenderung untuk bersikap sosial dengan binatang lain dalam rumah tersebut misalnya kucing lain, anjing atau bahkan dengan binatang yang biasanya secara tradisional adalah mangsa kucing seperti tikus dan burung.

Cara kucing dibesarkan juga berpengaruh terhadap sikap sosial kucing. Apabila seekor kucing terbiasa dipelihara dengan lembut oleh manusia sejak usia dini ( usia kritis antara dua sampai tujuh minggu) maka biasanya kucing akan merespon positif ketika bertemu orang setelah dewasa. Apabila pada usia tersebut kucing tidak terbiasa dipegang manusia maka besar kemungkinan setelah dewasa akan menjadi takut terhadap orang baru.

Kucing yang tumbuh dan besar bersama kucing lain dalam satu rumah ketika dewasa juga merespon positif ketika bertemu kucing lain. Demikian juga kucing yang tumbuh bersama anjing dalam satu rumah setelah dewasa cenderung untuk tidak takut pada anjing lain dibandingkan dengan kucing yang tidak tumbuh bersama anjing atau dengan kucing yang punya pengalaman buruk dengan anjing sebelumnya.

Biasanya kucing diadopsi pemilik baru pada usia sekitar delapan minggu, pada usia ini kucing sudah melewati masa kritis sosialisasi. Pada saat ini kucing sudah bisa melompat dan memanjat serta akan terus tumbuh  baik secara ukuran maupun secara seksual. Karena sudah melewati usia kritis sosialisasi maka biasanya kucing dan pemilik baru perlu bersosialisasi untuk menjadi terbiasa dan saling merasa nyaman.

Perilaku Sosial Kucing