Waspada Parasit Kucing

Secara umum parasit didefinisikan sebagai organisme (mahluk hidup) yang hidup didalam atau pada mahluk hidup lain dan mendapatkan makanan dari mahluk hidup yang ditempatinya. Terdapat dua macam parasit pada kucing: internal (hidup pada organ dalam kucing) dan eksternal (hidup pada bagian luar tubuh kucing seperti rambut dan kulit). Parasit sangat perlu dipahami para pemilik kucing karena keberadaannya sangat mengganggu kesehatan kucing, beberapa parasit juga bersifaat zoonotic (bisa menular ke manusia). Lanjutkan membaca “Waspada Parasit Kucing”

Waspada Parasit Kucing

Persiapan Sterilisasi Kucing

Walaupun dianggap “kejam” oleh sebagian orang, namun tindakan operasi ovariohysterectomy  (OH) atau lebih banyak dikenal sebagai “sterilisasi” kucing betina menurut saya adalah salah satu cara mensejahterakan kucing yang paling memungkinkan untuk dilakukan. Bagi saya tindakan ini jauh lebih baik dibandingkan membiarkan kucing beranak pinak namun kemudian tidak diurus dengan baik atau bahkan seringkali dibuang (biasanya ke pasar atau tempat sampah). Lanjutkan membaca “Persiapan Sterilisasi Kucing”

Persiapan Sterilisasi Kucing

Jangan Abaikan Cacing Pada Kucing

Mendengar kata cacingan mungkin terasa menjijikkan,namun suka atau tidak suka hampir semua kucing pernah ditumpangi cacing dalam perutnya. Para pemilik kucing mungkin tidak terlalu peduli pada penyakit karena cacing, hal adalah wajar mengingat kucing yang ditumpangi cacing jarang menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.Walaupun demikian pada keadaan yang parah sangat mungkin cacing bisa berakibat fatal. Lanjutkan membaca “Jangan Abaikan Cacing Pada Kucing”

Jangan Abaikan Cacing Pada Kucing

Obat cacing Saja Tidak Cukup Untuk Membasmi cacing Pita Pada Kucing

Terdapat dua spesies cacing pita yang biasa terdapat pada kucing: dipylidium caninum dan taenia taeniaeformis. Cacing pita dipylidium caninum membutuhkan pinjal sebagai inang perantara dalam siklus hidupnya sedangkan taenia taeniaeformis memerlukan binatang mengerat seperti tikus sebagai inang perantara.

Untuk memahami bagaimana cacing pita tumbuh dalam tubuh kucing dan kemudian menyebar pada kucing lain serta kaitannya dengan pinjal kucing maka kita harus memahami terlebih dahulu siklus hidup cacing pita dan juga siklus hidup dari pinjal kucing. Lanjutkan membaca “Obat cacing Saja Tidak Cukup Untuk Membasmi cacing Pita Pada Kucing”

Obat cacing Saja Tidak Cukup Untuk Membasmi cacing Pita Pada Kucing

Cacingan Pada Kucing

Cacingan merupakan salah satu penyakit yang umum ditemukan pada kucing. Pada kasus yang ringan kucing tidak nampak menunjukkan gejala sakit, akan tetapi pada kasus yang berat gejala cacingan akan mudah diamati. Selain merugikan kucing itu sendiri, beberapa spesies cacing juga bisa menular ke manusia. Sehingga sangat dianjurkan untuk melakukan pengobatan secara rutin terhadap kucing dan anak kucing untuk membasmi cacing.

Kondisi bulu kucing kusam merupakan salah satu indikasi cacingan
Kondisi bulu kucing kusam merupakan salah satu indikasi cacingan

Pada dasarnya kucing dari berbagai usia, jenis kelamin dan ras dapat menderita cacingan, akan tetapi kucing yang berkeliaran diluar rumah, berburu dan memakan tikus ,sering bermain main pada tanah yang terkontaminasi tinja kucing atau hewan lain akan lebih beresiko menderita cacingan. Demikian juga kucing yang memiliki kutu beresiko lebih besar untuk terinfeksi cacing pita.

Perlu diperhatikan para pemilik kucing bahwa gejala yang dimunculkan oleh berbagai macam cacing banyak memiliki kemiripan sedangkan obat yang efektif untuk membasmi cacing tidaklah sama untuk semua jenis cacing maka sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter hewan sebelum melakukan pengobatan.

Terdapat 2 jenis cacing yang paling sering dijumpai pada usus kucing, yaitu cacing gilig (round worm) dan cacing pita (tape worm).

  1. Cacing Gilig

Cacing gilig yang paling banyak terdapat pada kucing berasal dari spesies Toxocara cati dan Toxocaris leonina. cacing ini biasanya berwarna putih atau kuning kecoklatan, panjangnya sekitar 5 – 10 cm. Jika melihat benda panjang seperti mie pada kotoran kucing atau muntahan kucing, besar kemungkinan pada kucing tersebut terdapat cacing gilig ini.

Gejala yang paling umum akibat adanya infestasi cacing ini adalah : perut yang membuncit, kotoran lunak dan terkadang disertai diare, sering muntah dan kucing kelihatan lesu atau malas bergerak.

Telur cacing gilig keluar dari tubuh kucing bersama dengan tinja, telur ini bisa bertahan berbulan bulan atau bahkan bertahun tahun. Apabila telur ini tertelan oleh kucing, maka telur akan menetas dalam tubuh kucing dan mengulang siklus yang sama. Selain itu penularan juga bisa terjadi apabila kucing memakan tikus yang sebelumnya memakan telur cacing ini.

Pada kucing yang hamil, larva (cacing yang masih muda) menetap pada jaringan tubuh kucing. Larva ini tidak berbahaya bagi  kucing yang sedang hamil tersebut, akan tetapi ketika kucing tersebut melahirkan, maka larva akan bergerak ke arah kelenjar susu dan karenanya melalui air susu akan menginfeksi anak kucing yang menyusu. Sebagian besar kucing yang baru lahir  terinfeksi cacing gilig dengan cara ini.

Yang perlu diperhatikan bahwa cacing ini dapat menular ke manusia. Meskipun jarang terjadi, anak anak yang tertular cacing gilig ini bisa mengalami kebutaan karena pergerakan larva dalam tubuh bisa menyebabkan kerusakan jaringan.

2. Cacing tambang

cacing tambang atau Ancylostoma braziliense merupakan cacing gilig yang berukuran sangat kecil sehingga tidak bisa dengan mudah diamati dengan mata telanjang. Tipis dengan panjang kurang dari setengah cm. Cacing tambang dapat menular pada manusia melalui kulit, hal ini terjadi misalnya ketika berjalan dengan kaki telanjang. Cacing tambang yang masuk ke dalam usus kucing akan menghisap darah dan menyebabkan anemia, pada kucing muda anemia bisa berakibat fatal (mematikan).

Kucing dewasa jarang menunjukkan gejala adanya infestasi cacing tambang (karena sudah kebal) sedangkan pada kucing muda bisa nampak gejala gejala: Diare atau tinja berbentuk lunak, adanya darah dalam tinja, lesu dan lemah serta perut terasa sakit.

Seekor cacing tambang dapat mengeluarkan ratusan telur yang kemudian keluar bersama tinja kucing, larva yang menetas akan tetap tinggal bersama tinja kucing seama beberapa minggu. Apabila kucing menginjak tinja yang mengandung larva tersebut, larva akan menempel pada telapak kaki kucing. Pada saat menjilat jilat, larva akan masuk melalui mulut kucing menuju saluran pencernaan kucing. Hanya dalam waktu 2-3 minggu larva akan tumbuh dewasa dan mengulang siklus yang sama. Sebagai tambahan anak kucing dapat juga terinfeksi melalui sir susu induk yang mengandung cacing.

3. cacing Pita

Tubuh cacing pita tersusun atas beberapa segmen, bentuknya mirip butiran beras. Terdapat dua spesies yang paling umum pada kucing yaitu Dypilidium caninum dan Taenia taeniaeformis. Pada kucing yang terkena cacing pita ini, biasanya potongan cacing bisa dijumpai dengan mudah pada kotoran atau bulu sekitar ekornya. Potongan cacing ini dapat dikenali dari bentuknya yang seperti beras.

Dypilidium caninum ditularkan melalui kutu. Kutu yang masih muda (larva) memakan telur cacing pita,telur ini kemudian menetas dalam tubuh kutu tersebut menjadi cacing muda. Kutu akan tumbuh dewasa dan menempatkan diri di sela sela bulu kucing untuk menghisap darahnya. Ketika kucing menjilat jilat bulunya (grooming) maka kutu yang mengandung cacing pita muda didalamnya  tersebut ikut tertelan. Cacing muda ini kemudian akan menempel dan tumbuh dewasa pada dinding usus kucing menjadi cacing dewasa. Cacing dewasa akan menyebarkan potongan cacing yang kemudian keluar bersama tinja kucing. Selain itu , potongan cacing juga bisa dikeluarkan bersama muntahan kucing. Bisa diasumsikan kucing yang mempunyai kutu juga mempunyai cacing pita, demikian juga sebaliknya.

Gejala klinis kucing yang menderita, hilangnya berat badan dan adanya potongan cacing pita pada kotoran serta pada bulu di sekitar anus kucing. 

Adapun cacing pita Taenia taeniaeformis ditularkan ke kucing melalui tikus,dimana kucing menjadi tertular apabila memakan tikus yang sebelumnya memakan telur cacing pita ini.

Cacing pita dapat diobati dengan obat cacing, namun karena penularannya melibatkan kutu maka pengobatan hanya efektif apabila juga disertai pembasmian kutu kucing.

Pengobatan

Karena penularannya bisa melalui air susu induk, maka cacing gilig adalah cacing yang paling banyak diketemukan pada anak kucing. Pengobatan sedini mungkin sangat dianjurkan untuk anak kucing, penerapannya bisa dilakukan sebagai berikut: Pada kucing umur 3 minggu sampai 8 minggu pengobatan diberikan setiap 2-3 minggu sekali, setelah itu pengobatan diberikan setiap bulan sampai kucing umur 6 bulan. Kucing yang  berumur lebih dari 6 bulan bisa diberi pengobatan setiap 1 – 3 bulan sekali.

Adapun cacing pita biasanya menjadi masalah pada kucing dewasa, kucing anakan juga bisa terkena apabila anak kucing juga memiliki kutu. Pengobatan cacing pita dianjurkan dilakukan setiap 1 – 3 bulan sekali pada kucing dewasa dengan obat cacing yang efektif untuk cacing gilig maupun cacing pita. Pada kucing anakan pengobatan terhadap cacing pita juga dianjurkan apabila kucing tersebut memiliki kutu.Pada kucing anakan maupun kucing dewasa sangat dianjurkan untuk melakukan pengobatan untuk membersihkan kutu selain melakukan pengobatan cacing.

Pada saat ini obat cacing yang mengandung bahan aktif Pyrantel ( efektif untuk cacing gilig) dan praziquantel (efektif untuk cacing pita) bisa dibeli dengan mudah di berbagai pet shop, namun tetap dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter hewan sebelum menggunakannya.

Pencegahan

Walaupun tidak menjamin sepenuhnya, namun menjaga kebersihan merupakan salah satu tindakan yang bisa meminimalkan resiko cacingan. Demikian juga pengobatan kutu akan menurunkan resiko infeksi cacing pita. Menggunakan sarung tangan dan mencuci tangan dengan bersih sangat penting untuk mencegah penularan cacing pita ke manusia.

Cacingan Pada Kucing