Kastrasi Kucing Jantan

Dalam berbagai kesempatan saya selalu menyarankan tindakan sterilisasi kucing sebagai salah satu cara untuk mencegah populasi kucing yang berlebihan yang tentu saja tidak bagus untuk lingkungan dan juga untuk kucing itu sendiri. Dari pengalaman saya bertemu para pemilik kucing , kebanyakan dari mereka melihat steril kucing betina lebih penting daripada kucing jantan karena kucing betina  bisa hamil sedangkan kucing jantan tidak akan beranak pinak. Padahal sebenarnya kucing jantan akan menghasilkan keturunan (anak) yang lebih banyak dibanding kucing betina karena satu kucing jantan bisa kawin dan menyebabkan kehamilan banyak kucing betina.Kastrasi merupakan tindakan bedah yang dilakukan untuk membuang testis kucing jantan sehingga kucing tersebut tidak lagi mempunyai kemampuan bereproduksi. Seperti  diketahui, testis merupakan organ vital penghasil sperma dan hormon testosteron. Sperma merupakan cikal bakal individu (kucing) baru sedangkan testosteron merupakan hormon jantan yang membuat sifat kejantanan kucing muncul dan nampak.

Tindakan kastrasi tentu saja mempunyai manfaat dan kerugian bagi pemilik kucing maupun si kucing itu sendiri. Seyogyanya pemilik kucing berkonsultasi dengan dokter hewan terlebih dahulu dan mempertimbangkan segala manfaat dan kerugian sebelum memutuskan untuk mengkastrasi kucing.

Beberapa keuntungan dari kastrasi pada kucing jantan adalah:

  • Menurunkan atau menghilangkan hasrat kucing jantan untuk keluyuran mencari  betina yang sedang birahi, hal ini juga akan menurunkan resiko kucing jantan berkelahi dengan kucing lain yang biasa terjadi ketika si kucing keluyuran.
  • Pada keadaan tertentu bisa menekan sifat agresif atau galak dari si kucing jantan.
  • Bisa mencegah munculnya kanker testis (karena testisnya dibuang).
  • Kucing jantan yang dikastrasi biasanya lebih jinak dan mudah dipegang.
  • Tidak bisa membuat hamil kucing betina yang ada disekitarnya.
  • Kastrasi kucing jantan bisa mengurangi kecenderungan “dominan” terhadap kucing lain disekitarnya.

Disamping keuntungan tersebut diatas, tentu saja ada kerugian yang harus dipertimbangkan:

  • Kastrasi bersifat permanen, artinya begitu dikastrasi maka seumur hidupnya kucing tersebut tidak akan memiliki kemampuan untuk menghasilkan keturunan.
  • Prosedur pembedahan dalam melakukan kastrasi membutuhkan perlakuan pemberian obat bius dan sekecil apapun selalu ada resiko dalam pembedahan dan pembiusan. Akan tetapi Jika dilakukan dengan prosedur yang benar maka resiko pembedahan dan pembiusan jauh lebih kecil dibandingkan dengan manfaat yang didapatkan.

Untuk bisa dikastrasi seekor kucing jantan harus memenuhi dua syarat utama yaitu berbadan sehat (sangat disarankan sudah menjalani vaksinasi terlebih dahulu) dan cukup dewasa (sudah nampak testisnya).

Setelah dokter hewan memastikan seekor kucing memenuhi syarat untuk menjalani prosedur kastrasi maka dilakukan anastesi (pembiusan) pada kucing tersebut, beberapa dokter hewan menggunakan anastesi lokal untuk tindakan kastrasi namun saya pribadi lebih cenderung menggunakan anastesi umum (pembiusan total) dalam melakukan kastrasi. Prosedur umum sebelum pembiusan adalah pemuasaan, jadi kucing harus dipuasakan terlebih dahulu 6-8 jam sebelum pembiusan, hal ini dimaksudkan untuk mencegah resiko kucing muntah  pada saat dibius.

Tindakan pembedahan dilakukan dengan membuat sayatan pada scrotum (buah zakar) dan kemudian mengeluarkan dan memotong testis serta mengikat saluran yang ada. Pada kastrasi sayatan dibuat kecil dan tidak perlu dijahit karena akan dengan mudah menutup sendiri.

Proses pembedahan tidak berlangsung lama namun efek pembiusan baru akan hilang setelah beberapa jam, setelah sadar kucing masih akan nampak sempoyongan dan belum mau makan minum. Tergantung individu,  biasanya 24 – 48 jam setelah pembedahan kucing sudah mulai mau makan secara bertahap.

Perawatan setelah pembedahan bisa dilakukan sendiri dirumah, biasanya dokter hewan akan memberikan resep antibiotika yang harus diberikan selama 3-5 hari, terhadap lukanya sendiri tidak perlu perlakuan khusus karena akan sembuh sendiri.

Jika setelah pembedahan scrotum atau buah zakar kucing nampak membengkak, tidak perlu khawatir karena ini hal yang wajar terjadi pasca operasi dan akan segera menyusut dengan sendirinya.

 

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Kastrasi Kucing Jantan

Silahkan tinggalkan komentar disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.