Tidak Semua Kucing Boleh Di Vaksin

Adalah kenyataan yang harus kita terima bahwa sampai saat ini belum ada obat yang dipandang mumpuni mengobati penyakit yang ditimbulkan oleh virus dan cara yang paling ampuh untuk melindungi kucing dari penyakit karena virus adalah dengan memberikan perlindungan pada kucing dengan pemberian vaksin. Walaupun vaksinasi terbukti efektif melindungi kucing namun ada kalanya pada kondisi tertentu kucing justru tidak boleh disuntik vaksin.

Pada prinsipnya vaksin hanya boleh diberikan pada kucing yang sehat sehingga kucing yang terindikasi sakit atau berpotensi sakit tidak boleh divaksinasi sampai kondisinya benar benar sehat. Jadi kucing yang  menunjukkan gejala klinis sakit seperti suhu tubuh yang tinggi, tidak mau makan, lesu dan sebagainya mutlak tidak boleh divaksinasi.

Selain kucing yang jelas jelas menunjukkan gejala klinis sakit, dokter mungkin saja menolak atau menunda memberi vaksinasi jika kucing yang akan divaksin berada pada lingkungan yang tercemar penyakit menular. Jika pada lingkungan sekitar kucing yang akan divaksin terdapat kucing lain yang sakit (atau bahkan mati) maka pemberian vaksin sebaiknya ditunda. Penundaan ini perlu dilakukan karena kita harus menunggu masa inkubasi terlampaui terlebih dahulu. Masa inkubasi adalah waktu antara agen penyebab penyakit masuk ke tubuh kucing dan gejala klinis ditampakkan, artinya pada saat virus masuk ke tubuh kucing mungkin tidak ada gejala yang teramati dan dibutuhkan waktu sekitar 4 hari sampai kucing tersebut mulai menampakkan gejala sakit (misalnya nafsu makan menurun). Karena itu walaupun kucing nampak sehat namun dilingkungannya terdapat kucing yang sakit – harus ditunggu lebih kurang satu minggu untuk memastikan bahwa kucing tersebut tidak atau belum terinfeksi virus penyebab penyakit.

Memang sekilas nampak ribet dan merepotkan namun ini semua dilakukan demi kebaikan si kucing itu sendiri. Seperti diketahui vaksin pada dasarnya adalah bibit penyakit tertentu  yang sudah dilemahkan dan diberikan untuk merangsang terbentuknya zat kebal (antibodi) yang akan memerangi agen infeksi tertentu dengan membangkitkan sistem kekebalan  tubuh terhadap agen infeksi penyebab penyakit tersebut. Karena itulah pemberian vaksin pada kucing yang sedang sakit justru akan memperlemah kondisi kucing tersebut.

Biasanya vaksinasi diberikan dengan cara menyuntikkan di bawah kulit dan beberapa vaksin ada yang diberikan dengan cara diteteskan ke hidung atau mata. Antibodi sendiri merupakan senyawa protein yang diproduksi dalam tubuh ketika terpapar organisme penyebab penyakit yang sudah dilemahkan di dalam vaksin.

Seekor anak kucing sebaiknya minimal mendapatan perlindungan terhadap tiga macam penyakit utama : feline panleukopenia,rhinotracheitis, calicivirus ( ketiganya sering disatukan dalam satu paket vaksin). Pemberian vaksin pada kucing sebaiknya dilakukan semenjak kucing berusia dua bulan atau 8 minggu hal ini dikarenakan pada usia tersebut maternal antibodi (kekebalan yang diturunkan dari induk) akan mulai menurun kadarnya dalam tubuh anak kucing dan selanjutnya diulang lagi satu bulan kemudian (usia 3 bulan), setelah itu diberikan satu tahun kemudian.

Walaupun mungkin sekilas nampak mahal namun sebenarnya biaya melakukan vaksinasi akan jauh lebih murah dari harga yang harus kita bayar ketika kucing yang tidak divaksinasi terjangkit penyakit karena virus yang biasanya tidak bisa disembuhkan.

 

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Tidak Semua Kucing Boleh Di Vaksin

2 pemikiran pada “Tidak Semua Kucing Boleh Di Vaksin

  1. Sudah tepat tindakan membawa ke dokter, ikuti saja saran yang diberikan dokter (termasuk kemungkinan harus dirawat inap) dan sampaikan perkembangannya kepada dokter yang menanganinya.

  2. Kucing anggora saya berumur 5 bulan , dia keguguran , dia hamil di umur 4 bulan , kami juga mempunyai kucing jantan di rumah , kami tidak tahu bahwa kucing anggora ini hamil , yang kami tahu ketika dia keguguran mengeluarkan darah di vital nya , dan sudah 4 hari dia lemas , gak mau makan , tidur saja , tetapi nafas nya cepat , 59 tarikan nafas per menit .. bahkan dia susah buat tidur , sudah ke dokter , dokter memberikan obat antibiotik , vitamin , penurun deman, dan rangsangan .. tetapi malah makin membuat nafas nya semakin cepat , jadi bagaimana yg harus saya lakukan lgi?

Silahkan tinggalkan komentar disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.