Toxoplasmosis Bukan Hanya Karena Kucing

Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima adalah : benarkah virus pada rambut (bulu) kucing bisa menyebabkan penyakit yang bisa membuat wanita menjadi mandul?. nampaknya pertanyaan semacam ini muncul karena adanya informasi yang tidak lengkap tentang penyakit Toxoplasmosis yang sering dikaitkan dengan kucing.

Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis klasik yang dapat dijumpai hampir di seluruh dunia. Menurut data WHO, diketahui sekitar 300 juta orang menderita toxoplasmosis. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii dan dapat menyerang manusia serta berbagai jenis mamalia, termasuk hewan kesayangan serta satwa eksotik. Toxoplasmosis juga memiliki dampak ekonomis yang penting karena dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan dan fertilitas, termasuk abortus (keguguran).

Menurut Prof. Dr. drh. Wayan Tunas Artama  dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, hingga saat ini, toxoplasmosis masih banyak menjadi perhatian karena penyakit ini dapat ditularkan dari hewan ke manusia melalui sista di dalam daging, sayuran, dan buah-buahan, serta air yang tercemar oosista infektif. “Pada wanita hamil yang mengalami infeksi primer pada kehamilan trisemester pertama dapat mengakibatkan keguguran dan juga kelainan pada janin, seperti hidrosefalus, mikrosefalus, anesefalus, serta bisa mengakibatkan retardasi mental, retinokorioditis, dan kebutaan.

Oleh karena akibat buruk yang ditimbulkan pada janin,jika seorang wanita terdeteksi menderita toxoplasmosis maka dokter akan menyarankan untuk tidak hamil terlebih dahulu sampai dinyatakan bersih dari penyebab penyakit toxoplamosis. Barangkali ini yang kemudian memunculkan anggapan bahwa memelihara kucing bisa menyebabkan wanita menjadi mandul.

Walaupun Toxoplasma gondii sebagai penyebab toxoplamosis memang melibatkan kucing dalam siklus hidupnya, namun adalah tidak proporsional jika kemudian kucing dianggap sebagai satu satunya penyebab toxoplamosis. Perlu diketahui bahwa sebagian besar penularan ke manusia tidak terjadi melalui kucing namun justru melalui daging yang biasa dikonsumsi seperti daging sapi dan bahkan seperti dikatakan Prof. Dr. drh. Wayan Tunas Artama diatas, bisa ditularkan melalui sayuran atau air yang dikonsumsi (walaupun pada prakteknya ini jarang terjadi).

Kucing yang merupakan inang tetap dari T.gondii biasanya terinfeksi karena memakan daging yang mengandung sista T.gondii – ini bisa berupa tikus yang terinfeksi atau daging yang belum matang. Setelah kucing memakan daging yang terinfeksi tersebut, maka melalui siklus hidup yang kompleks didalam tubuh kucing, T.gondii akan berbiak dan membelah diri  menghasilkan ookista yang kemudian disebarkan keluar melalui tinja kucing. Sistem kekebalan tubuh dari kucing yang terinfeksi T.gondii tersebut segera bereaksi sehingga perkembang biakan parasit ini segera dihentikan dan penyebaran oosista dalam tinja kucing akan berhenti setelah 10-14 hari. Penyebaran ulang sangat jarang sekali terjadi dan kalaupun terjadi jumlah oosista yang keluar sangatlah sedikit.

Oosista yang keluar dari tinja kucing tidak serta merta dapat menginfeksi, karena sebelum bisa menginfeksi ookista tersebut perlu terlebih dahulu membentuk spora dalam proses yang disebut sporulasi. Proses pembentukan spora ini membutuhkan waktu sampai 5 hari. Oosista yang sudah bersporulasi ini dapat bertahan sampai 18 bulan dan dapat disebarkan secara tidak langsung melalui berbagi objek, misalnya angin, air, sayur dan buah buahan, dll.

Hampir semua mamalia berdarah panas termasuk manusia, domba, tikus adalah inang perantara dari T.gondii dan dapat terinfeksi apabila menelan oosista yang sudah bersporulasi tersebut. Namun infeksi pada inang perantara tidak akan menghasilkan oosista seperti pada kucing. Pada inang perantara,oosista akan mengalami siklus dan berubah menjadi sista jaringan yang menetap dalam jaringan tubuh inang.Sista jaringan ini akan menjadi sumber infeksi baru apabila daging dari inang tersebut dikunsumsi.

Kemungkinan seekor kucing terinfeksi T.gondii sangat tergantug dari gaya hidupnya, kucing yang suka berburu tikus mempunyai kemungkian terinfeksi lebih besar karena makan tikus buruannya.Disamping itu, kucing juga bisa terinfeksi apabila memakan daging yang belum matang.

Bagaimana Manusia Terkena Toxoplasmosis?: kasus toxoplasmosis pada manusia terjadi karena mengkonsumsi daging yang terkontaminasi dalam keadaan mentah atau belum dimasak sampai matang. Perlu diketahui, daging sapi, domba maupun babi sangat dimungkinkan mengandung kista jaringan dari T.gondii yang menular dan daging segar lebih beresiko dibandingkan daging beku karena pembekuan biasanya membunuh T. gondii. Memakan daging mentah olahan seperti Salami dan Parma juga berisiko tinggi untuk tertular.

Jalur penularan lain yang mungkin terjadi adalah tertelannya oosista pada tanah yang terkontaminasi karena ketika tangan yang kotor ketika bertaman secara tidak sengaja menyentuh mulut, juga karena mengkonsumsi buah dan sayuran yang tidak dicuci.

Susu kambing yang belum dipasteurisasi (disterilkan) dan produk turunannya juga dimungkinkan menjadi sumber penularan dari T.gondii.

Berbeda dengan pendapat umum pada masyarakat, bersentuhan dengan kucing tidaklah meningkatkan resiko manusia untuk tertular T.gondii. Walaupun kebersihan sangatlah penting namun bersentuhan dengan kucing bukan merupakan faktor resiko penularan toxoplasmosis. Kucing hanya menyebarkan oosista selama 10-14 hari setelah terinfeksi pertama kali dan ookista membutuhkan waktu 1-5 hari untuk bersporulasi sebelum bisa menjadi bentuk yang bisa menginfeksi. Membersihkan tinja kucing setiap hari dan secara rutin melakukan desinfeksi akan menurunkan resiko bagi pemiliknya.

Efek Infeksi T.gondii Pada Manusia: Infeksi T.gondii pada manusia sangatlah umum terjadi, diperkirakan 30% populasi manusia sudah pernah terinfeksi T.gondii . Biasanya orang yang terinfeksi T.gondii tidak merasakan apa apa atau hanya merasakan gejala seperti flu ringan. Akan tetapi pada orang yang kekebalan tubuhnya terganggu seperti para penderita kanker yang sedang menjalani terapi, pasien penerima cangkok organ, penderita AIDS, para balita dan lanjut usia – toxoplasmosis mungkin akan berakibat lebih serius.

Pada ibu hamil yang belum pernah terinfeksi T.gondii sebelumnya apabila terinfeksi T.gondii pada trisemester pertama kehamilannya,janin yang dikandungnya mempunyai resiko keguguran. Akan tetapi diperkirakan hanya 0,2%-1,6% dari wanita hamil yang terinfeksi T. gondii ketika hamil. Sementara penularan dari ibu ke anak melalui plasenta sangatlah jarang terjadi.

Untuk Mengurangi resiko penularan toxoplasmosis pada ibu hamil, dianjurkan hal hal berikut:

1. Memasak daging setidaknya pada suhu 70 C selama 15 menit atau menyimpan pada suhu minus 12C

2. Menghindari konsumsi daging mentah atau susu yang belum dispasteurisasi (sterilisasi).

3. Mencuci semua buah dan sayuran sebelum dimakan

4. Mengenakan sarung tangan ketika berkebun

5. Sedapat mungkin tidak membuang sendiri kotoran kucing, apabila terpaksa melakukannya, buanglah setiap hari dengan mengenakan sarung tangan setelah itu bersihkan dengan sabun atau desinfektan.

6. Secara rutin membersihkan baki kotoran kucing (litter box), mencucinya dengan detergent atau dengan air mendidih selama 10 menit

7. Tidak memberi makan kucing daging mentah

Sebagaimana juga pada penyakit lainnya maka mencegah akan jauh leih baik daripada mengobati, demikian juga dengan toxoplasmosis ini karenanya mari kita biasakan memelihara kucing dengan baik dan bersih karena dengan demikian kita akan mencegah kucing kita (dan diri kita) terinfeksi toxoplasma dan juga ikut mencegah penyebaran toxoplasma ke lingkungan sekitar kita.

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Toxoplasmosis Bukan Hanya Karena Kucing

Silahkan tinggalkan komentar disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.