Vaksin Tidak Menjamin kucing Kita Tidak Akan Sakit

Hampir semua pemilik kucing pasti tahu atau setidaknya pernah mendengar perihal vaksinasi, beberapa menyebutnya sebagai “imunisasi”. Sepanjang yang saya tahu penggunaan kata imunisasi dipakai untuk “manusia” sedangkan vaksinasi lebih diterapkan untuk hewan, walaupun demikian keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk merangsang munculnya kekebalan dari dalam tubuh.

Walaupun bertujuan menimbulkan kekebalan, namun tidak berarti kucing yang sudah divaksin akan bebas dari segala penyakit selamanya.Reaksi vaksin dan tubuh adalah reaksi antigen dan antibodi, antigen adalah benda asing yang masuk ke dalam tubuh sedangkan antibodi adalah zat kebal yang diproduksi tubuh untuk melawan benda asing tersebut. Antigen bisa berupa bakteri,virus,jamur, dll. Vaksin merupakan antigen berupa bibit penyakit yang sudah dilemahkan sehingga tidak membahayakan tubuh namun cukup untuk merangsang munculnya antibodi.

Mekanisme kerja antigen (agen penyakit) dan antibodi sering dianalogikan sebagai prinsip kerja sepasang rumah kunci dan anak kunci, kita pasti tahu bahwa satu rumah kunci hanya bisa dimasuki oleh satu jenis anak kunci saja. Demikian juga satu jenis antibodi hanya bisa digunakan untuk melawan satu jenis antigen saja, sebaliknya satu jenis antigen hanya bisa merangsang munculnya satu jenis antibodi saja.

Dengan memahami prinsip diatas, maka tidak sulit dipahami bahwa satu jenis vaksin yang merupakan satu jenis antigen hanya memunculkan antibodi untuk penyakit tersebut. Jadi memberikan satu vaksin pada kucing tidak serta merta membuat kucing menjadi terlindungi dari segala penyakit namun hanya melindungi dari penyakit tertentu saja (sesuai dengan vaksin yang diberikan).

Antibodi yang dhasilkan dalam tubuh beredar dalam darah dan kadarnya tidaklah stabil sepanjang umur kucing, pada saatnya kadar antibodi tersebut akan menurun pada level yang tidak mencukupi lagi untuk melindungi tubuh kucing. Sebelum kadar antibodi dalam darah benar benar habis diperlukan rangsangan ulang untuk kembali menaikkan kadar antibodi tersebut,hal ini yang sering disebut sebagai “booster” atau pemberian vaksin ulang untuk menaikkan kadar antibodi dalam tubuh.

Dari proses pembuatannya terdapat dua macam vaksin: Live attenuated vaccine (vaksin yang berasal dari organisme hidup yang dilemahkan) dan killed vaccine (vaksin yang berasal dari organisme yang sudah dimatikan). Karena berupa organisme yang hidup vaksin yang tergolong sebagai live attenuated vaccine harus ditangani dengan hati hati,penyimapan harus dalam suhu yang ideal dan vial (botol) bekas vaksin tidak boleh dibuang sembarangan. Penyimpanan yang ceroboh berpotensi mematikan vaksin tersebut sehingga tidak bisa merangsang kekebalan yang diharapkan.

Selain kondisi vaksin, keberhasilan vaksinasi juga dipengaruhi oleh kondisi tubuh kucing penerima vaksin. Syarat utama sebelum diberi vaksin, seekor kucing haruslah dalam kondisi sehat, kucing yang sakit tidak boleh diberikan vaksinasi karena dalam keadaan tubuh yang lemah tubuh kucing tidak akan mampu memberikan respon yang baik dan malah akan berakibat buruk bagi kucing tersebut.

Banyak yang mungkin berpendapat, kucing jalanan tidak pernah mendapat vaksinasi tetap saja sehat dan hidup dengan baik baik saja. Memang benar mereka nampak baik baik saja itu karena kita tidak melihat kucing yang sakit dan kemudian mati, yang kita lihat adalah yang tersisa melalui proses selesi alami. Kucing yang bertahan tersebut mendapat vaksinasi alami yaitu terpapar agen penyakit yang sesungguhnya (bukan yang dilemahkan) dari kucing lain dan kemudian memunculkan antibodi dalam tubuhnya, antibodi ini yang kemudian melindungi kucing tersebut dari serangan selanjutnya.

Jika kucing jalanan bisa mendapat vaksinasi alami dengan terpapar penyakit sesungguhnya,bisakah kita sengaja membiarkan kucing kita terpapar seperti itu sehingga tidak perlu divaksin yang mungkin harganya terasa mahal?. Menurut saya, bisa saja membiarkan kucing kita mendapat vaksinasi dengan cara tersebut, namun resikonya terlalu besar – jika agen penyakit yang masuk terlalu kuat (karena tidak melalui proses pelemahan) maka tubuh kucing tidak akan mampu menahannya.

Jadi cara terbaik dan termurah untuk melindungi kucing dari penyakit utama adalah dengan vaksinasi, walaupun tidak bisa melindungi kucing kita seratus persen namun akan meminimalkan resiko sampai titik terendah.

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Vaksin Tidak Menjamin kucing Kita Tidak Akan Sakit

2 pemikiran pada “Vaksin Tidak Menjamin kucing Kita Tidak Akan Sakit

  1. Kucing yang sudah disteril lalu birahi lagi tentu tidaklah normal, namun ini bisa terjadi (birahi muncul kembali beberapa minggu setelah sterilisasi) jika hormon reproduksi dalam darahnya belum habis benar.

  2. Apakah bisa kucing jika sudah steril birahi, krna saya ada kucing betina, sudah steril 3 bln lalu tp tb2 3 hr ini kucing saya ngeong2 trs menerus lalu berguling2 seperti birahi..

Silahkan tinggalkan komentar disini