Radang Telinga Kucing Akibat Virus Distemper

Kucing yang terkena virus distemper seringkali digambarkan menunjukkan gejala umum seperti : depresi, tidak mau makan, muntah dan diare. Akan tetapi terkadang kucing yang terkena distemper tidak langsung menunjukkan gejala tersebut dan bahkan justu menunjukkan gejala yang lain seperti radang telinga.

Feline Panleukopenia atau lebih sering dikenal sebagai Feline Distemper merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, sangat ganas dan biasanya berakhir fatal. Walaupun namanya mirip dengan Canine Distemper pada anjing, namun keduanya disebabkan oleh virus yang berbeda.

Penyakit ini disebabkan oleh Feline Panleukopenia Virus (FPV) sedangkan pada anjing disebabkan oleh Canine Parvovirus (CPV).FPV tidak menular ke anjing, namun sebaliknya tipe tertentu dari CPV (yaitu CPV tipe 2) diduga juga banyak menyebabkan penyakit yang gejalanya mirip Panleukopenia.Mengacu pada situs Merck Veterinary Manual, di beberapa negara Asia pada saat ini jumlah kasus akibat CPV sudah menyaingi jumlah kasus karena FPV.

Walaupun bersifat ganas pada kucing namun FPV hanya menyerang hewan yang tergolong dalam famili felidae serta keluarga dekatnya ,tidak menyerang hewan lain dan juga bukan tergolong sebagai penyakit zoonosis (ditularkan ke manusia).

Pada dasarnya virus ini menyerang epitel (sel sel yang ada pada permukaan) saluran pencernaan, sumsum tulang belakang, jaringan limfa dan pada kucing yang masih muda menyebabkan kerusakan pada retina mata dan juga otak.

Seperti juga penyakit yang lain, kucing yang terkena FPV akan menunjukkan gejala depresi dan kehilangan nafsu makan. Selain itu kucing juga menjadi suka mendekati tempat yang ada airnya namun tidak mau minum. walaupun tidak selalu kelihatan kucing penderita distemper juga menunjukkan gejala diare yang biasanya berbau busuk. Gejala lain yang sering muncul adalah drolling (keluar air liur secara berlebihan).

Karena virus ini menyerang sumsum tulang dan jaringan limfa, maka kucing penderita akan terganggu sistem pertahanan tubuhnya. Penderita menjadi kekurangan sel darah putih (leukosit) dan keadaan ini disebut sebagai leukopenia. Akibat dari lemahnya sistem pertahanan tubuh ini maka kucing menjadi rentan terhadap segala macam agen infeksi,sehingga gejala yang muncul tidak hanya gejala diatas tapi juga gejala penyakit lain. Misalnya ada kucing yang terkena FPV dan kemudian mudah terkena otitis (radang telinga) karena jamur atau kutu yang ada pada telinga tumbuh tidak terkendali akibat adanya gangguan sistem kekebalan tersebut. Seringkali gejala radang telinga bisa lebih dulu terdeteksi atau teramati.

Kucing menjadi terserang FPV jika bersentuhan dengan material yang terkontaminasi oleh virus FPV. Kontaminasi terjadi jika material tersebut bersentuhan dengan eksreta (kotoran,kencing atau material lain yang dikeluarkan dari tubuh) dari kucing yang sakit. Kucing yang sembuh dari FPV bisa terus mengeluaran virus sampai jangka waktu 6 minggu setelah nampak sembuh.Material yang bersentuhan dengan kucing yang mengeluarkan virus ini berpotensi menularkan virus ke kucing lainnya.Bisa dibayangkan jika ada kucing yang sakit dan kemudian mencemari tanah lalu tanah tersebut terinjak oleh sepatu, maka virus tersebut akan menyebar melalui sepatu tersebut. Hal ini yang menyebabkan kucing outdoor, lebih berisiko terkena dibanding kucing yang hanya tinggal di dalam rumah (indoor).

Ada anggapan bahwa kucing kampung (kucing jalanan) lebih tahan terhadap FPV dibanding kucing yang dipelihara indoor. Pendapat ini ada benarnya dikarenakan pada kucing jalanan tersebut peluang terpapar FPV lebih besar, paparan virus ini kemudian menjadi semacam vaksin alami yang merangsang munculnya antibodi dalam tubuh kucing yang selanjutya menjadi pelindung terhadap infeksi selanjutnya.

Masuknya virus ini kedalam tubuh kucing tidak serta merta memunculkan gejala klinis,terdapat masa inkubasi (rentang waktu antara virus masuk ke tubuh penderita sampai kucing menunjukkan gejala klinis) yang berkisar 2-7 hari. Selama masa inkubasi ini kucing mungkin masih nampak sehat namun berangsur angsur menurun kondisi tubuhnya.

Jika virus ini menyerang kucing yang sedang hamil maka virus bisa saja dipindahkan ke janin melalui plasenta yang akan berakibat, janin terserap kembali, janin mengeras, keguguran atau lahir dalam keadaan mati. Jika anaknya bisa lahir hidup, besar kemungkinan sel sel otaknya sudah terserang berakibat tremor (gemetaran),inkoordinasi (sempoyongan).

sayangnya sampai saat ini belum ada obat yang efektif untuk melawan virus ini jadi kucing yang sakit hanya dikondisikan untuk stabil dengan cairan infus dan antibiotika untuk menghambat infeksi sekunder (infeksi ikutan).

Walaupun belum ada obatnya, untungnya saat ini vaksin terhadap panleukopenia cukup efektif mencegah penyakit ini, walaupun harganya relatif tidak murah namun akan jauh lebih mahal dan berisiko jika kucing terlanjur terkena penyakit ini.

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Radang Telinga Kucing Akibat Virus Distemper

2 pemikiran pada “Radang Telinga Kucing Akibat Virus Distemper

  1. Jika sampai berdarah, artinya terdapat luka pada ususnya. Terdapat banyak kemungkinan penyeban usunya terluka, bisa karena cacingan,virus, dll. Supaya mengurangi beban ususnya – makanan dihentikan dulu – namun perlu diinfus. Jadi bawalah ke dokter

  2. Chandra asmoro berkata:

    IDok mau tanya maaf OOT..
    Kucing saya usia baru 3 bulan.. biasa selama ini sdh makan makanan kering dan perutnya keras.. mau pup kelihatannya sulit sekali lalu sy coba ganti dgn wetfood.. dan ternyata sdh bisa pup.. hanya permasalahnya skrg kucing sy di anusnya berdarah (berak darah) jika pup smp menetes.. sy tidak tega melihatnya.. lalu sy coba kasih norit.. adakah obat yg lebih cepat untuk menghentikan pendarahannya ketika dia pup? Soalnya waktunya sy sangat sibuk sekali dok.
    Trims dokter..

Silahkan tinggalkan komentar disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.