Menghadapi Kucing Diare,Apa Yang Harus Dilakukan ?

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang pemilik kucing yang bercerita bahwa dua ekor kucingnya baru baru ini terkena diare dan tidak bisa diselamatkan nayawanya padahal sudah diobati dengan salah satu obat diare manusia, sebelumnya kucingnya yang lain juga terkena diare dan dapat sembuh dengan obat yang sama.

Diare merupakan hal yang banyak terjadi dan hampir semua kucing mungkin pernah mengalaminya, walupun seringkali diare ini sembuh sendiri tanpa pengobatan khusus namun seperti pada kejadian diatas terkadang diare bisa berakibat fatal. Jadi penting untuk mengetahui, apa yang harus dilakukan ketika seekor kucing terkena diare dan kapan harus dibawa ke dokter.

Seperti juga pada manusia, kucing terkadang mengalami gangguan kesehatan dan diare adalah salah satu gangguan kesehatan yang biasa dijumpai pemilik kucing. Gejala diare sangatlah mudah diamati. Pada kucing yang sehat, tinja biasanya padat dan mempunyai bentuk yang jelas sedangkan pada kucing menderita diare tinja akan lunak, berair atau bahkan cair disertai peningkatan jumlah dan frekuensi pengeluaran tinja yang terkadang disertai rasa sakit ketika mengeluarkan tinja (ditandai dengan kucing mengejan atau menjerit ketika buang air besar). Pada keadaan diare, warna tinja bisa berubah lebih terang atau lebih gelap dibandingkan warna tinja normal.

Gejala diare bervariasi menurut tingkat keparahannya, bagian usus yang mengalami gangguan juga menentukan gejala yang ditunjukkan oleh kucing penderita, misalnya gangguan pada usus besar (kolon) akan menyebabkan gejala meningkatnya frekuensi pengeluaran tinja, terkadang disertai lendir atau darah, juga disertai sikap mengejan. Diare bisa terjadi secara akut (mendadak) atau kronis (berlangsung selama beberapa minggu). Pada keadaan tertentu bisa dijumpai darah dalam tinja kucing penderita diare.

Apabila kucing tidak memiliki litter box (kotak pasir) di dalam rumah, bentuk dan kondisi tinja mungkin sulit diamati. Pada keadaan seperti ini, kondisi kucing yang nampak lemah, pendiam,lesu dan turunnya berat badan mungkin lebih mudah untuk diamati. Pada keadaan yang parah, kucing tidak dapat menahan diri untuk buang air sehingga ceceran kotoran (tinja) bisa dijumpai dimana mana (termasuk didalam rumah) atau noda kotoran atau tinja juga bisa diamati pada bulu sekitar ekor kucing.

Diare bukanlah sebuah penyakit, namun lebih merupakan gejala dari adanya ketidaknormalan pada tubuh kucing. Pada umumnya diare pada kucing disebabkan hal hal berikut:

Perubahan pakan secara mendadak bisa menyebabkan munculnya diare ringan atau diare yang bersifat sementara. Hal ini biasa terjadi pada kucing muda yang diberi pakan yang tidak sesuai untuk umurnya, pada kucing dewasa yang dibiarkan ke luar rumah ada kemungkinan kucing memakan makanan yang sudah membusuk. Pemberian susu juga bisa menyebabkan diare ringan dikarenakan kucing tidak bisa mencerna laktosa dengan baik.

Beberapa agen infeksi yang bisa menyebabkan diare misalnya: virus ( feline parvovirus, feline infectious peritonitis, feline leukemia virus, feline corona virus), bakteri( salmonella dan campylobacter), parasit (Giardia,Tritrichomonas,coccidia dan juga cacing). Diare yang disebabkan oleh agen infeksi biasanya menyerang lebih dari satu kucing pada satu rumah dan terutama menyerang kucing yang masih muda.

Walaupun jarang terjadi akan tetapi alergi pada jenis pakan tertentu bisa menyebabkan diare pada kucing.

Adanya peradangan pada dinding usus kucing akan menyebabkan terjadinya diare kronis (berlangsung lebih dari satu minggu), bisa terjadi secara terus menerus atau bisa juga terjadi secara berulang dengan disertai gejala muntah.

Pada kucing yang sudah tua, tumor usus (biasanya lymphoma dan adenocarcinoma) akan menyebabkan gangguan penyerapan makanan dan atau menyebabkan terjadinya sumbatan pada usus yang selanjutnya mengakibatkan diare pada kucing.

Gangguan pada pangkreas yang seharusnya menghasilkan enzim untuk mencerna makanan akan menyebabkan makanan tidak dapat dicerna dengan baik dan mengakibatkan terjadinya diare.

Walaupun belum diketahui dengan jelas mekanismenya, terdapat hubungan antara kekurangan vitamin B12 (cobalamin)dengan diare pada kucing.

Menghadapi kucing yang diare, hal pertama yang harus diperhatikan adalah tetaplah tenang dan tidak perlu panik, tidak semua diare harus ditangani dokter dengan segera karena pada beberapa kasus, pemilik dapat dengan mudah dan murah melakukan sendiri pengobatan dirumah.

Begitu mendapati kucing diare, maka hentikan pemberian pakan dengan segera. Mungkin ini nampak aneh dan sekilas nampak akan menyiksa si kucing. Akan tetapi penghentian pemberian pakan ini diperlukan untuk mengistirahatkan dan mengosongkan saluran pencernaan kucing. Pengehentian pemberian pakan ini bisa dilakukan 12 sampai 24 jam, namun perlu dicatat bahwa walaupun makanan dihentikan namun pemberian air minum tetap diberikan dan bahkan kucing perlu didorong untuk minum sebanyak banyaknya.

Ada kalanya kucing nampak lemas dan tidak mau minum, pada keadaan seperti ini – kita bisa memberikan minum dengan menggunakan spuit (alat suntik) plastik yang sudah dilepas jarumnya. Jika dimungkinkan berkanlah oralit (larutan gula garam).Pemberian oralit ini akan sangat berguna untuk mencegah dehidrasi.

Terdapat obat diare yang dijual dia apotik dengan mudah dan murah serta bisa diberikan pada kucing, misalnya: Norit dan Guanistrep.

Untuk kucing dewasa setengah tablet norit yang digerus dan dicampur air akan banyak membantu sedangkan untuk kucing kecil cukup dengan seperempat tablet.

Guanistrep merupakan senyawa pektin kaolin yang seperti juga Norit berfungsi untuk menetralisir zat racun yang mungkin masuk ke saluran pencernaan dan menyebabakan diarae. Kucing dewasa cukup dengan 1 – 2 ml sedangkan kucing anakan cukup seperempat ml.

Apabila diare terjadi karena stress atau karena makanan yang tidak cocok maka biasanya setelah 24 jam akan sembuh dengan tindakan diatas, namun jika diare terus terjadi setelah 24 jam, kucing nampak lemah,tidak mau minum serta nampak depresi, maka besar jangan tunda lagi dan segeralah dibawa ke dokter hewan.

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Menghadapi Kucing Diare,Apa Yang Harus Dilakukan ?

6 pemikiran pada “Menghadapi Kucing Diare,Apa Yang Harus Dilakukan ?

  1. Seperti kita juga, kadang kadang kucing kehilangan nafsu makan walaupun sebenarnya sehat. Jika estrus nya berhenti – akan kembali normal. Namun tidak ada salahnya merangsang nafsu makannya dengan makanan lain yang baunya lebih mencolok.

  2. Trus gmn dok dgn nafsu makanya yg menurun cara mengatasinya gmn dok?dia cm mau makan klo bnr2 lapar dan tp keadaanya tdk lemas sm skali malah lari2 & bermain sprti biasa ,ini memang sdh sy hentikan suntik kb nyaa dok krn takut kena pyometra

  3. Dari gejalanya, nampaknya memang birahi.Apabila tidak dikehendaki punya anak lagi – sebaiknya di sterilkan saja, penggunaan hormon untuk kontrol kelahiran kucing saat ini tidak disarankan.

  4. kucing sy sdh 2 hari tbtb tidak nafsu makan tp ttp lincah seperti biasa tp kadang dia mengeong dan guling2 setiap sy pegang dan jadi suka keluar rmh apa kucing sy birahi dok dia sdh prnh suntik kb di drh dekat rmh sy tp cm sekali dan tdk sy suntik kb lg suda hmpir 5bln

Silahkan tinggalkan komentar disini