Genetika Pemuliaan Kucing

Tinggal dengan lima ekor kucing “kampung” sungguh sangat menyenangkan, tingkahnya yang lucu,manja dan seringkali nakal membuat saya tidak pernah bosan untuk melihatnya. Walaupun kata “kampung” yang disematkan pada kucing ini seringkali membuatnya dipandang sebagai kucing yang tidak selevel jika dibandingkan dengan kucing kucing eksotis semacam persia dan anggora, namun bagi saya sebagian besar sifat dan fungsi biologis para kucing kucing itu adalah sama.

Membahas perbedaan dan persamaan sifat, karakter dan penampilan berbagai macam kucing tidaklah mungkin tanpa membahas genetika kucing. Walaupun saya sendiri awam perihal genetika namun tidak ada salahnya jika saya berbagi beberapa pengetahuan dasar yang penting tentang genetika, khususnya yang ada kaitannya dengan kucing.

Hal pertama yang harus kita pahami ketika berbicara tentang genetika adalah kromosom dan gen. Kromosom merupakan bagian dari sel yang terletak didalam inti sel dan kromosom ini merupakan bagian yang menyimpan informasi penting yang akan menentukan sifat,penampilan dan karakter yang akan diturunkan orang tua kepada anaknya.Bisa dikatakan kromosom adalah cetak biru dari suatu mahluk hidup. Adapun gen adalah bagian di dalam kromosom yang terdiri dari protein DNA (deoxyribonucleic acid) dan RNA (ribonucleic acid).

Kebanyakan  kucing rumahan yang kita kenal memiliki 38 buah kromosom (19 pasang)dan setiap kromosom terdiri tidak kurang dari 25.000 buah gen. Peluang kombinasi yang luar biasa banyaknya dari ribuan gen ini akan menentukan sifat,karakter dan penampilan seekor kucing, akan tetapi hanya sebagian kecil saja yang akan nampak dalam penampilan fisik seekor kucing dan sebagian besar lainnya tidak akan nampak dari luar namun bertanggung jawab untuk memperkuat dan memperhalus berbagai aspek fisiologi seekor kucing.

Ribuan gen dalam kromososom jika dikombinasikan secara acak akan menghasilkan kombinasi yang luar biasa banyaknya. Kombinasi terkecil dari gen berupa pasangan gen yang disebut alela. Masing masing gen dalam pasangan alela ini diturunkan dari masing masing orang tua, dengan kata lain seekor ayah kucing dan seekor ibu kucing akan menyumbang masing masing satu buah gen dalam setiap pasangan alela anak kucing yang dilahirkan dari perkawinan mereka.

Ketika sepasang gen berpasangan membentuk sebuah alela hanya gen yang bersifat dominan saja yang akan menentukan sifat yang akan muncul ke permukaan, sedangkan sifat sifat yang ada pada gen resesif tidak akan muncul. Contohnya adalah sifat rambut pada kucing, rambut pendek merupakan gen dominan dan rambut panjang merupakan gen resesif, jika seekor anak kucing mewarisi satu gen rambut pendek dan satu gen rambut panjang dari masing masing orang tuanya, maka penampilan kucing tersebut akan berupa kucing yang berambut pendek.

Gen yang bersifat resesif hanya akan menampakkan sifat yang dimilikinya jika berpasangan dengan gen yang juga bersifat resesif, dalam contoh diatas bisa diasumsikan jika seekor anak kucing terlahir dengan membawa satu gen resesif rambut panjang dari ayah dan satu gen resesif rambut panjang dari ibunya maka anak kucing tersebut akan menampakkan rambut yang panjang (walaupun kedua orang tuanya berambut pendek).

Jika dalam satu alela kedua gen penyusunnya identik (baik dominan ataupun resesif) maka alela tersebut disebut sebagai alela yang homozygot dan apabila pasangan gen dalam alela tersebut tidak identik maka alela tersebut disebut sebagai alaela heterozygot.

Selain gen dominan dan resesif terdapat juga gen yang bersifat additive, sifat sifat yang terkandung dalam gen ini akan muncul ke permukaan jika digabungkan dengan dua atau lebih alela yang lain. Contoh dari gen additive adalah gen yang menentukan warna mata kucing, penampakan warna mata kucing kuning,kecoklatan atau hijau ditentukan oleh gen yang bersifat additive.

Baik kucing jantan maupun betina, masing masing menentukan menurunkan sifat yang diturunkan kepada anaknya.Ketika pasangan orang tua kucing tersebut mempunyai alela yang bersifat homozigot (baik dominan maupun resesif) maka semua anak anaknya akan mewarisi dan menampakkan sifat tersebut. Hal inilah yang menjadi dasar dari strategi breeding (pemuliaan).

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Genetika Pemuliaan Kucing

3 pemikiran pada “Genetika Pemuliaan Kucing

  1. ABDI TAUHID berkata:

    ohh ternyata begitu, terimakasih pak atas penjabaranya, sangat menarik dan mudah di mengerti 🙂

  2. Kucing termasuk hewan yang ovulasinya terjadi setelah kopulasi (induced ovulation), hal ini berarti ovulasi (pengeluaran sel telur) terjadi setelah kopulasi (jantan mengawini betina), jumlah sel telur yang dikeluarkanpun juga lebih dari satu. Pada saat kopulasi jantan mengeluarkan semen yang juga berisi banyak sel sperma. satu sel sperma akan berapasangan dengan satu sel telur, namun karena terdapat banyak sperma dan banyak sel telur maka anak yang dihasilkannya pun bisa lebih dari satu. Sebagai tambahan bisa saja satu ekor kucing betina hamil dari beberapa pejantan yang berbeda pada satu periode kehamilan.

  3. abdi tauhid berkata:

    pak saya mau tanya, kan kita tau setiap beranak kucing menghasilkan 4 ekor, nah gimana sih fertilisasinya? apakah ada 4 sperma yg masuk dalam satu sel telur? atau sepeti apa? terimakasih

Silahkan tinggalkan komentar disini