Mengapa Pengobatan Scabies Kucing Tidak Cukup Diberikan Sekali ?

Salah satu keluhan yang sering saya terima dari pemilik kucing adalah gangguan pada kulit karena scabies. Berbeda dengan kutu atau pinjal yang walaupun kecil namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang maka penyebab parasit penyebab scabies mungkin tidak pernah terlihat oleh pemilik kucing.

Pengobatan yang menurut saya efektif dan tidak menyulitkan pemilik kucing adalah dengan pemberian obat melalui suntikan bawah kulit dibarengi pengobatan dengan shampo yang sudah diformulasikan dengan obat.Dengan mempertimbangkan siklus hidup parasit penyebabnya,pengobatan melalui suntikan bawah kulit ini saya selalu anjurkan untuk dilakukan dua kali dengan interval 2 minggu, walaupun beberapa hari setelah pengobatan pertama kucing biasanya sudah nampak membaik.   

Pemilik kucing yang menderita scabies biasanya mengamati rambut kucing nampak rontok pada daerah tertentu (kebanyakan dimulai dari daerah telinga) dan kemudian berlanjut sampai muncul kerak pada permukaan kulitnya. Karena kucing merasa gatal maka kucing juga nampak terus menerus menggaruk dan tidak jarang berakibat munculnya luka.

Salah satu penyebab scabies yang sering dijumpai adalah tungau  notoedres cati. Penyebab scabies ini memang sulit terlihat oleh mata telanjang karena selain bentuk atau ukurannya yang memang kecil, juga karena tempat biasanya berdiam atau tinggal pada terowongan terowongan yang ada didalam kulit.

Jika tungau ini menempel ke kulit manusia akan muncul bercak bercak merah seperti gigitan nyamuk, tungau ini tidak bisa berkembang biak dalam kulit manusia namun keberadaannya menimbulkan rasa tidak nyaman dan tentu saja sangat mengganggu.

Tungau Notoedres Cati dewasa mempunyai panjang 200 – 240 μm  hidup didalam terowongan pada lapisan kulit kucing,parasit betina bertelur dan meletakan telurnya di dalam terowongan pada kulit. Seekor parasit betina akan bertelur tiga atau empat butir setiap harinya yang kemudian menetas 4-5 hari kemudian.

Telur yang menetas menjadi larva, larva ini kemudian meninggalkan terowongan tersebut untuk merayap ke bagian permukaan kulit sebelum membuat lobang terowongan baru, pada terowongan ini larva akan berubah menjadi nimfa stadium pertama setelah lebih kurang satu minggu kemudian.

Nimfa stadium pertama yang baru lahir pindah ke tempat yang lebih dekat dengan permukaan kulit dan membuat lobang (terowongan kedua) serta berubah menjadi nimfa stadium kedua dan selanjutnya nimfa stadium kedua akan ini berpindah lagi ke tempat yang lebih dekat dengan permukaan (membentuk terowongan ketiga) untuk tumbuh menjadi tungau dewasa.Tungau betina dewasa cenderung tinggal dalam terowongan ke tiga ini adapun jantan akan berpindah mencari betina, proses dari telur menjadi dewasa membutuhkan waktu lebih kurang 12 hari atau lebih.

Stadium larva dan nimfa adalah yang paling sering menular antar kucing dan penularan terjadi melalui kontak langsung antar kucing.

Karena tidak langsung menunjukkan gejala dan kucing nampak sehat sehat saja, pemilik kucing tidak menyadari jika pada kucingnya terdapat tungau dan baru disadari setelah kucing nampak gatal, menggaruk garuk ataupun kulitnya mulai muncul luka terbuka.

Pengobatan terhadap scabies tidak bisa atau tidak cukup dilakukan sekali saja, dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Dokter hewan akan memberikan suntikan antiparasit sebanyak dua atau tiga kali dengan interval dua minggu, hal ini dikarenakan pengobatan tidak akan membunuh telur dan karenanya setelah menetas harus dilakukan pengobatan ulang untuk memutus siklus hidup tungau.

Selain dengan pengobatan melalui suntikan juga harus disertai memandikan kucing dengan shampo yang mengandung obat anti parasit. Pemberian salep yang mengandung sulfur juga akan membantu mempercepat kesembuhan.

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Mengapa Pengobatan Scabies Kucing Tidak Cukup Diberikan Sekali ?

Silahkan tinggalkan komentar disini