Obat cacing Saja Tidak Cukup Untuk Membasmi cacing Pita Pada Kucing

Terdapat dua spesies cacing pita yang biasa terdapat pada kucing: dipylidium caninum dan taenia taeniaeformis. Cacing pita dipylidium caninum membutuhkan pinjal sebagai inang perantara dalam siklus hidupnya sedangkan taenia taeniaeformis memerlukan binatang mengerat seperti tikus sebagai inang perantara.

Untuk memahami bagaimana cacing pita tumbuh dalam tubuh kucing dan kemudian menyebar pada kucing lain serta kaitannya dengan pinjal kucing maka kita harus memahami terlebih dahulu siklus hidup cacing pita dan juga siklus hidup dari pinjal kucing.

Bagi yang asing dengan istilah pinjal, mungkin lebih akrab dengan sebutan kutu karena pinjal kucing dalam kehidupan sehari hari sering juga disebut kutu kucing oleh para pemilik kucing.

Pinjal kucing

Sering disebut sebagai kutu kucing,pinjal yang paling populer di kalangan kucing adalah pinjal dari spesies Ctenocephalides felis.

Pinjal ini bisa dijumpai jika dengan pemeriksaan yang teliti pada bulu/ rambut kucing terutama pada sekitar leher dan pangkal ekor. Pinjal berwarna coklat pipih dengan panjang lebih kurang 2mm. Adanya  pinjal ini sangat mengganggu kenyamanan dan kesehatan kucing, apabila jumlahnya banyak bisa menyebabkan anemia yang berakibat fatal pada kucing muda. Air liur pinjal ini menyebabkan kucing merasa gatal dan cederung menggaruk dan menggigitnya, akibatnya terjadi radang pada kulit yang bisa memicu adanya infeksi bakteri.

Telur pinjal berwarna putih dengan diameter lebih kurang 0,5 mm. Telur ini bisa dilihat dengan mata telanjang, biasanya jatuh dari bulu kucing bersama sama dengan kotoran ketika kucing menggaruk garuk, melompat, mencakar cakar ataupun ketika sedang tidur. Tergantung dari kondisi lingkungan, telur pinjal akan menetas dalam waktu 1-10 hari menjadi larva. Kotoran pinjal  yang jatuh bersamaan dengan telur berfungsi sebagai makanan bagi larva pinjal yang baru menetas. Kondisi ideal untuk telur menetas adalah kelembapan 70% atau lebih dengan suhu antara 21-32 derajat celcius.

Dibawah kondisi ideal, telur pinjal akan menetas menjadi larva yang mempunyai panjang lk 6mm. Larva pinjal ini tidak mempunyai kaki tetapi mempunyai mulut. Larva hidup dari memakan kotoran pinjal, dan reruntuhan kulit yang mati. Larva ini bersembunyi di balik karpet, furniture untuk menghindari sinar.

Setelah 7-18 hari larva pinjal berubah menjadi pupa yang dibungkus material yang solid berasal dari saliva (air liur) larva dan reruntuhan kulit. Pupa ini memerlukan waktu 7-10 hari sebelum berubah menjadi pinjal dewasa. Pupa sulit dideteksi dan biasanya bertempat tinggal atau bersembunyi di balik karpet atau celah celah  perabot rumah tangga. Pada stadium ini pengobatan tidak efektif.

Pinjal kucing ini lebih suka menempati kucing dari pada manusia, tetapi pada keadaan yang sangat banyak dimungkinkan pinjal ini juga menghisap darah manusia.Gejala adanya pinjal ini adalah rasa gatal, lepuh merah kecil biasanya pada telapak dan pergelangan kaki .

Cacing Pita

Sebagaimana namanya, cacing ini berbentuk pipih memanjang dan terdiri atas puluhan bahkan ratusan segmen (disebut proglotid) yang didalam perut kucing panjangnya bisa mencapai 60cm.Walaupun umum ditemukan pada kucing namun para pemilik kucing biasanya tidak menyadari keberadaannya.

Jika seekor dalam tubuh kucing terdapat cacing pita dipylidium caninum, maka proglotid dari cacing yang keluar dari tubuh kucing dalam potongan potongan kecil bersama dengan kotoran (feses) kucing.Sepintas proglotid cacing ini akan nampak seperti bulir bulir beras atau biji mentimun yang bergerak gerak.Setiap proglotid mempunyai organ reproduksi sendiri sehingga dan menghasilkan telur.

Proglotid yang pecah akan menyebabkan telur cacing keluar dan apabila termakan oleh larva pinjal kucing maka telur tersebut pecah dalam tubuh larva pinjal dan menghasilkan oncosphere yang kemudian menembus dinding usus dan tumbuh menjadi larva cysticercoid. Ketika larva tumbuh menjadi pinjal dewasa maka pinjal dewasa ini membawa cysticercoid dalam tubuhnya. Jika pinjal ini termakan oleh kucing ketika menjilat jilat rambutnya maka bisa diduga bahwa kucing dengan sendirinya juga memakan cycticercoid cacing pita ke dalam tubuhnya. Didalam tubuh kucing,cysticercoid ini akan tumbuh menjadi cacing pita dewasa dan siklus ini terus berulang.

Sebenarnya cacing pita relatif tidak berbahaya bagi kucing karena kerugian yang ditimbulkannya tidak langsung kelihatan, namun kucing yang didalam perutnya terdapat cacing pita akan menderita kekurangan nutrisi dan sebagai akibatnya bisa terhambat pertumbuhan berat badannya serta rambutnya menjadi nampak tidak bagus bahkan bisa rontok lebih banyak dari seharusnya.

Karena siklus hidup cacing pita dari spesies dipylidium caninum memerlukan pinjal, maka untuk membersihkan kucing dari cacing pita dipylidium caninum tidaklah cukup dilakukan dengan pemberian obat cacing saja dan harus disertai dengan pembersihan atau pemberantasan pinjal dari tubuh kucing. Tanpa menghilangkan pinjal dari tubuh kucing maka cysticercoid dalam tubuh pinjal akan berpotensi masuk kembali ke dalam tubuh kucing dan tumbuh menjadi cacing pita dewasa.

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Obat cacing Saja Tidak Cukup Untuk Membasmi cacing Pita Pada Kucing

Silahkan tinggalkan komentar disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.