Notoedres Cati, Salah Satu Penyebab Scabies Pada Kucing

Scabies pada kucing bisa secara sederhana digambarkan sebagai gudig atau luka terbuka yang tidak sembuh sembuh, sangat mengganggu bagi kucing dan tentu saja menjadikan kucing berkurang keindahannya.

Bagian yang paling sering terkena biasanya diawali dari daun telinga, leher dan sekitar kepala dimana pada awalnya nampak rambut yang rontok, kemudian nampak muncul kerak pada kulit dan jika tidak segera diobati akan menyebar ke seluruh tubuh.

Kucing penderita akan nampak gelisah, sering menggaruk garuk rambutnya dan lama kelamaan berkembang menjadi kulit yang kemerahan serta akhirnya karena terus di garuk berubah menjadi luka terbuka.Selain itu, karena rasa yang tidak nyaman dan mengganggu kucing menjadi lebih agresif dan mudah marah.

Penyebab yang paling sering dari scabies pada kucing adalah tungau (sejenis parasit kecil yang hidup di dalam jaringan kulit) dari spesies Notoedres Cati. Kucing yang tertular parasit ini tidak serta merta menunjukkan gejala, dibutuhkan waktu berminggu minggu dan bahkan ber bulan bulan dari sejak pertama kali tertular sampai muncul gejala.

Tungau Notoedres Cati dewasa mempunyai panjang 200 – 240 μm  hidup didalam terowongan pada lapisan kulit kucing,parasit betina bertelur dan meletakan telurnya di dalam terowongan pada kulit. Seekor parasit betina akan bertelur tiga atau empat butir setiap harinya yang kemudian menetas 4-5 hari kemudian.

Telur yang menetas menjadi larva, larva ini kemudian meninggalkan terowongan tersebut untuk merayap ke bagian permukaan kulit sebelum membuat lobang terowongan baru, pada terowongan ini larva akan berubah menjadi nimfa stadium pertama setelah lebih kurang satu minggu kemudian.

Nimfa stadium pertama yang baru lahir pindah ke tempat yang lebih dekat dengan permukaan kulit dan membuat lobang (terowongan kedua) serta berubah menjadi nimfa stadium kedua dan selanjutnya nimfa stadium kedua akan ini berpindah lagi ke tempat yang lebih dekat dengan permukaan (membentuk terowongan ketiga) untuk tumbuh menjadi tungau dewasa.Tungau betina dewasa cenderung tinggal dalam terowongan ke tiga ini adapun jantan akan berpindah mencari betina, proses dari telur menjadi dewasa membutuhkan waktu lebih kurang 12 hari atau lebih.

Stadium larva dan nimfa adalah yang paling sering menular antar kucing dan penularan terjadi melalui kontak langsung antar kucing.

Karena tidak langsung menunjukkan gejala dan kucing nampak sehat sehat saja, pemilik kucing tidak menyadari jika pada kucingnya terdapat tungau dan baru disadari setelah kucing nampak gatal, menggaruk garuk ataupun kulitnya mulai muncul luka terbuka.

Pengobatan terhadap scabies tidak bisa atau tidak cukup dilakukan sekali saja, dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Dokter hewan akan memberikan suntikan antiparasit sebanyak dua atau tiga kali dengan interval satu – dua minggu, hal ini dikarenakan pengobatan tidak akan membunuh telur dan karenanya setelah menetas harus dilakukan pengobatan ulang untuk memutus siklus hidup tungau. Selain dengan suntikan pengobatan juga harus disertai memandikan kucing dengan shampo yang mengandung obat anti parasit. Pemberian salep yang mengandung sulfur juga akan membantu mempercepat kesembuhan.

Manusia yang tinggal bersama kucing yang kebetulan terkena tungau Notoedres Cati mungkin akan mengalami gatal gatal pada tangan dan kaki, namun sejauh ini tungau Notoedres Cati masih dianggap tidak menular dan tidak bisa hidup pada kulit manusia.

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Notoedres Cati, Salah Satu Penyebab Scabies Pada Kucing

Silahkan tinggalkan komentar disini