Rabies Pada Kucing

Penyakit rabies atau juga dikenal sebagai penyakit anjing gila merupakan salah satu penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) yang paling terkenal di Indonesia. Di Indonesia kasus rabies tercatat pertama kali ditemukan pada tahun 1884 pada kuda di Jakarta oleh Schoorl.

Menurut data dari Kementerian kesehatan Republik Indonesia (2014) dari 34 propinsi di Indonesia hanya 10 propinsi yang dinyatakan bebas rabies yaitu: Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Papua Barat, Papua dan Kalimantan Barat.Secara global saat ini 150 negara telah terjangkit rabies dengan jumlah korban meninggal tidak kurang dari 55.000 per tahun. Bersama 9 negara ASEAN lainnya Indonesia telah mendeklarasikan program ASEAN akan bebas rabies pada tahun 2020.

Penyakit rabies sendiri disebabkan oleh lyssavirus yang menyebabkan radang otak (encephalomyelitis) pada mamalia berdarah panas (termasuk manusia) dan terutama pada kera, anjing, musang, anjing liar dan kucing. Di Indonesia sebagian besar (98%)penularan rabies ke manusia terjadi melalui gigitan anjing.

Penularan rabies terjadi ketika virus yang terdapat pada air liur hewan penderita masuk melalui gigitan, walaupun jarang terjadi namun penularan bisa juga terjadi apabila terdapat luka segar yang terpapar air liur penderita rabies.Masa inkubasi ( waktu antara virus masuk sampai dengan timbul gejala) bervariasi antara 2 minggu sampai 2 tahun, pada anjing rata rata masa inkubasi 3 – 8 minggu. Variasi masa inkubasi ini dipengaruhi oleh letak gigitan (semakin dekat otak semakin cepat), kedalaman luka gigitan, jenis dan jumlah virus yang masuk.

Adapun gejala gejala penderita rabies pada manusia adalah: demam, mual, rasa nyeri di tenggorokan (sehingga takut untuk minum), gelisah, takut air (hidrofobia), takut cahaya (fotofobia) dan keluar air liur secara berlebihan (hipersalivasi).

Sedangkan gejala penderita rabies pada anjing (atau kucing) biasanya : perubahan perilaku secara tiba tiba ( menjadi tidak kenal pemiliknya atau tidak mau menurut perintah pemiliknya),mudah marah dan menyerang benda bergerak disekitarnya, takut cahaya ( suka sembunyi di kolong), nampak gelisah, suka mengunyah benda benda disekitarnya, kelumpuhan tenggorokan, kelumpuhan kaki belakang dan dalam waktu 10 – 14 hari anjing akan mati.

Pada setiap kejadian gigitan hewan penular rabies (kera,anjing,kucing,musang) pada manusia penting untuk melakukan tindakan pertolongan pertama berupa : mencuci luka bekas gigitan atau jilatan dengan deterjen atau membasuh dengan air mengalir selama 10-15 menit, beri laritan antiseptik seperti betadine, alkohol 70% atau sejenisnya, segera bawa ke puskesmas atau rumah sakit untuk pertolongan selanjutnya.

Sampai saat ini belum ada obat untuk hewan penderita rabies dan pengendalian rabies terutama dilakukan dengan pemberian vaksinasi. Selain vaksinasi sangatlah penting untuk memelihara hewan dengan baik dan bertanggung jawab. Apabila menjumpai hewan dengan gejala rabies disekitar kita, segeralah melaporkan ke Dinas Peternakan atau Puskeswan ( Pusat Kesehatan Hewan) terdekat.

 

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Rabies Pada Kucing

2 pemikiran pada “Rabies Pada Kucing

  1. Pompa Submersible berkata:

    Bisa menularkah pada anjing yang tidak keluar rumah dan tidak bergaul dengan hewan2 diluar rumah?

Silahkan tinggalkan komentar disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.