Leukemia Pada Kucing

Feline Leukemia Virus (FeLV) merupakan virus dari golongan retrovirus yang mampu memodifikasi sel kucing yang ditempatinya menjadi sel kanker. Virus ini sudah tersebar luas diseluruh dunia dan menyebabkan banyak kematian pada kucing. Menurut data yang dikutip dari merckvetmanual, pada tahun 2010 sebanyak 3,1% kucing di Amerika terdeteksi terinfeksi FeLV, di Jerman dan Kanada sebanyak 3,6% populasi kucing terdeteksi terinfeksi, di Mesir sebanyak 4,6% dan di Thailand sebanyak 24,5%. Tidak disebut data untuk Indonesia,namun mengingat kondisi geografis dan sosial ekonomi yang hampir serupa maka kemungkinan angkanya tidak jauh berbeda dengan di Thailand.

Gejala kucing yang terinfeksi FeLV bisa berbeda antara satu kucing dengan kucing lainnya, hal ini dikarenakan infeksi FeLV seringkali menimbulkan infeksi ikutan. Sebagian dari gejala tersebut adalah:hilangnya nafsu makan, kehilangan berat badan, bulu kusam, pembengkakan kelenjar getah bening, demam, gusi dan mulut kelihatan pucat, radang gusi dan mulut, infeksi pada kulit, infeksi saluran pernafasan, diare, gangguan saraf (sempoyongan dan inkoordinasi)serta keguguran.

Hampir semua virus FeLV yang menginfeksi kucing berasal dari subtype A, virus ini bisa bermutasi dan berubah menjadi subtype yang lain: subtype B yang menyebabkan kanker, subtype C yang menyebabkan adanya gangguan pembentukan sel darah dan selanjutnya memunculkan anemia atau kekurangan darah serta subtype T yang mengganggu pembentukan limfosit dan menyebabkan gangguan kekebalan tubuh.

Virus FeLV biasanya masuk melalui mulut atau saluran hidung kemudian berbiak di kelenjar getah bening terdekat. Selanjutnya melalui aliran darah virus akan menyebar ke seluruh tubuh (ginjal,limpa,kandung kemih, kelenjar ludah dan sumsum tulang). Viremia (adanya virus dalam darah) biasanya terjadi 2 – 4 minggu setelah infeksi. Pada awal infeksi biasanya tidak nampak gejala yang menonjol, kucing biasanya mengalami demam ringan, tubuhnya merasa tidak nyaman dan pembesaran kelenjar getah bening serta berkurangnya sel darah.

Ketika seekor kucing terinfeksi FeLV, ada empat kemungkinan yang bisa  terjadi:

  1. Infeksi Abortif: Pada kucing yang mempunyai pertahanan tubuh yang baik ,virus akan dilumpuhkan dan dibersihkan dari tubuh kucing sehingga kucing tetap sehat serta tidak menunjukkan gejala infeksi,sayangnya kondisi ini sangat jarang terjadi.
  2. Infeksi Regresif:Pada kucing yang mempunyai pertahanan tubuh cukup, virus akan dilokalisir sehingga tidak menyebar namun masih tetap ada dalam tubuh kucing. Kucing seperti ini tidak menunjukkan gejala sakit dan biasanya tidak menularkan virus melalui air liurnya.
  3. Infeksi Progresif: Pada kucing dengan pertahanan tubuh yang tidak cukup maka virus akan menyebar ke seluruh tubuh serta dapat menularkan virus melalui air liurnya.
  4. Infeksi Fokal: Kekebalan kucing cukup untuk menghambat virus untuk tidak menyebar namun virus terlokalisir dan bereplikasi (berbiak) pada organ tertentu saja misalnya kandung kemih atau mata.Keadaan ini juga sangat jarang terjadi.

Infeksi virus FeLV  menimbulkan berbagai kerusakan pada tubuh kucing berupa: anemia, kanker, penyakit yang diakibatkan lemahnya kekebalan tubuh, problem reproduksi, gangguan saraf dan radang mulut.

Anemia atau kekurangan darah terjadi karena virus menginfeksi sumsum tulang dan mengganggu proses pembentukan darah. Biasanya anemia yang terjadi bersifat nonregeneratif atau tidak bisa diperbaiki.

DNA dari virus FeLV mempunyai kemampuan untuk merubah DNA sel kucing yang ditempatinya. Kanker atau tumor yang paling banyak terjadi adalah kanker kelenjar getah bening,virus yang menginfeksi sumsum tulang juga bisa menyebabkan leukemia dimana sel darah putih berbiak tidak terkendali dan memangsa sel darah merah.Selain itu FeLV juga bisa menimbulkan kanker di berbagai organ dalam  yang lain.

Gangguan kekebalan tubuh yang disebabkan oleh FeLV menyebabkan tubuh kucing menjadi rentan terhadap adanya infeksi sekunder dari bakteri, jamur, protozoa atau bahkan virus lain.

Kucing betina yang hamil bisa mengalami keguguran. Janin dapat terinfeksi virus yang ditularkan melalui plasenta. Apabila janin bisa bertahan hidup dan selamat sampai lahir maka anak kucing tersebut kemungkinan sudah mengandung virus dalam tubuhnya. Jalur penularan yang lain adalah melalui air susu induk. Gejala anak kucing yang terinfeksi FeLV adalah suhu tubuh yang dingin, dehidrasi dan kematian secara bersamaan yang terjadi dalam dua minggu pertama, keadaan ini  sering disebut sebagai gejala “fading kitten syndrome”.

Pada saat ini terdapat tiga macam metode diagnosis laboratorium yang umum dipakai untuk menguatkan diagnosa terhadap FeLV yaitu: ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay), IFA (Immunofluorescent Assay) dan PCR (Polymerase Chain Reaction).ELISA dan IFA merupakan metode diagnostik berdasarkan reaksi antigen dan antibodi sedangkan PCR merupakan metode diagnostik berdasarkan identifikasi adanya DNA virus pada sampel yang diperiksa. Pada saat ini di Indonesia tidak banyak klinik hewan yang memiliki fasilitas ini. Walaupun penulis tidak mengetahui secara pasti berapa biayanya namun bisa dipastikan tidak murah untuk ukuran pemilik kucing secara umum, ini salah satu sebab kenapa dokter hewan praktek di Indonesia jarang mendasarkan diagnosa FeLV dengan metode tersebut (apalagi tidak ada yang bisa menjamin hasilnya 100% akurat) dan lebih mendasarkan pada pemeriksaan klinis serta sejarah penyakitnya.

Seperti penyakit karena virus lainnya,untuk FeLV tidak ada terapi yang efektif sehingga terapi pada kucing penderita lebih banyak difokuskan pada :mempertahankan kondisi tubuh penderita,menghambat penyebaran virus dan mencegah atau menghilangkan infeksi sekunder.

Penanganan terhadap untuk kucing penderita meliputi:pemberian pakan dengan nutrisi yang baik dan seimbang, hindari pemberian daging atau ikan mentah, pengobatan rutin terhadap parasit (kutu,cacing,jamur), Apabila memungkinkan pisahkan kucing yang pernah sakit dengan kucing yang masih sehat.

Dengan perawatan yang baik disertai dengan pengobatan terhadap infeksi sekunder yang tepat serta dengan meminimalkan stress terhadap kucing, kucing penderita FeLV masih bisa bertahan hidup selama bertahun tahun tanpa komplikasi penyakit yang berarti.

Pencegahan terhadap penyakit ini bisa dilakukan dengan memastikan memperoleh (mengadopsi) kucing dari sumber yang sehat, pemberian pakan yang baik dan seimbang dan vaksinasi. Memelihara kucing hanya di dalam rumah sangat membantu menurunkan resiko tertular dari kucing lain.

Walaupun virus ini sangat mudah menular dari satu kucing ke kucing lain, namun virus ini tidak menular ke hewan lain dan manusia. Jika anda mempunyai pengalaman khusus dengan kucing anda, silahkan berbagi dengan menulis komentar disini.

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Leukemia Pada Kucing

Silahkan tinggalkan komentar disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.