Sistem Perkencingan Kucing

Penyakit yang berhubungan dengan saluran kencing merupakan penyakit yang banyak ditemukan pada kucing saat ini , untuk itu ada baiknya kita mengenal sistem perkencingan kucing secara umum dan gejala gejala yang bisa diamati  karena adanya gangguan pada sistem perkencingan tersebut.

379812018_d88c5363d5_z
Foto milik Pam Muzyka/ CC BY NC ND 2.0

Seperti pada hewan menyusui lainnya, sistem perkencingan terdiri dari : ginjal,ureter,kandung kemih (vesica urinaria) dan uretra. Pada kucing jantan terdapat kelenjar prostat. Ginjal merupakan sepasang organ yang terletak di sisi kiri dan kanan tulang punggung dibelakang rusuk terakhir. Diantara ginjal terdapat organ kecil yang disebut kelenjar suprarenal.

Didalam ginjal terdapat pelvis renalis yang berfungsi seperti corong untuk menampung urin (air kencing) dan menyalurkan ke ureter untuk selanjutnya disalurkan ke kandung kemih (vesica urinaria). Dari kandung kemih, urin dibuang ke luar tubuh melalui uretra. Pada kucing jantan, uretra berakhir di ujung penis (alat kelamin jantan) dan pada betina berakhir di antara lipatan vulva (bibir kelamin betina).

Pada kucing jantan, uretra juga berfungsi menyalurkan sperma. Uretra pada jantan berukuran lebih kecil dibandingkan dengan uretra pada betina (sehingga lebih berisiko terkena penyumbatan).

Fungsi utama ginjal adalah untuk mengatur keseimbangan cairan, elektrolit dan keseimbangan asam basa serta mengeluarkan sampah sisa metabolisme tubuh. Fungsi tersebut dijalankan oleh nefron yang merupakan unit terkecil dari ginjal. Nefron sendiri terdiri dari bentukan seperti bola yang tersusun dari pembuluh darah (disebut glomerulus) yang menyaring produk buangan dari plasma darah dan mengeluarkannya ke suatu saluran (tubulus) yang kemudian dengan sebuah sistem akan menarik kembali air dan elektrolit di dalamnya, cairan yang tersisa ini yang kemudian disebut sebagai urin (air seni). Adanya kerusakan pada nefron atau tubulus akan menyebabkan terjadinya gagal ginjal.

Air seni atau urin yang normal berwarna jernih, warna urin dipengaruhi oleh konsentrasi produk sisa di dalamnya,adanya sel darah, status cairan dalam tubuh kucing, makanan, obat serta penyakit.

Keinginan kucing untuk kencing diatur oleh sistem syaraf pusat dan pada keadaan normal kucing mampu untuk mengatur atau mengendalikan dirinya sendiri kapan harus kencing dan hal ini yang menjadi dasar dari berhasil tidaknya latihan menggunakan litter box. Begitu kucing memutuskan untuk kencing, maka mekanisme pengosongan kandung kemih selanjutnya diatur oleh suatu sistem yang kompleks yang melibatkan refleks syaraf diluar kesadaran kucing.

Biasanya adanya gangguan pada sistem perkencingan kucing ditandai dengan berubahnya kebiasaan dalam buang air kecil. Sangatlah penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter hewan apabila mendapati kucing yang biasanya dengan tertib buang air di dalam litter box tiba tiba tidak melakukannya lagi. Adapun gejala gejala umum adanya gangguan sistem perkencingan biasanya meliputi:

  1. Kencing berlebihan (polyuria). Kucing yang terlalu sering buang air kecil merupakan salah satu indikasi adanya ketidaknormalan pada ginjalnya. Kucing akan mengganti cairan yang dikeluarkan dengan banyak minum (polydipsia). Sehingga tingkah laku kucing yang berubah menjadi banyak minum merupakan indikasi kucing tersebut juga banyak buang air kecil. Diabetes mellitus dan hyperthyroidismus merupakan salah satu penyebab kucing nampak terus kehausan dan banyak minum.
  2. Tidak bisa kencing (anuria). Merupakan keadaan dimana kucing tidak bisa buang air kecil  sama sekali. Hal ini bisa terjadi karena adanya sumbatan pada saluran kencing atau gangguan ginjal yang sangat parah.
  3. Kencing merasa sakit (dysuria). Ditandai dengan kucing nampak stress ketika buang air dan berjongkok serta mengejan dalam waktu yang lama. Seringkali kencingnya bercampur lendir atau darah. Kucing biasanya secara berlebihan menjilati alat kelaminnya secara berlebihan. Adanya pembengkakan pada perut bagian bawah serta terasa sakit menunjukkan adanya pengembungan kandung kemih. Kucing terkadang kencing di luar kotak pasir, biasanya bak mandi atau bak cuci piring menjadi alternatif yang dipilih kucing untuk buang air.
  4. Kencing berdarah (hematuria). Apabila kencing berdarah disertai rasa sakit ketika kucing kencing, hal ini menunjukkan adanya gangguan pada uretra atau kandung kemih, sedangkan kencing yang bercampur darah secara merata menunjukkan gangguan terjadi pada ginjal.
  5. Kencing tidak terkontrol( urinary incontinence).Ditandai dengan ketidakmampuan kucing untuk mengontrol keinginan buang air, biasanya merupakan akibat gangguan syaraf. Kucing menjadi sering buang air di tempat yang tidak seharusnya. Karena gejala yang nampak seringkali serupa dan kemungkinan terdapat lebih dari satu masalah pada saat yang sama, maka menjadi tidak mudah untuk menentukan diagnosa berdasarkan satu gejala semata. Perlu dicatat bahwa kencing tidak terkontrol tidaklah sama dengan problem tingkah laku dalam kencing.

Sangatlah penting untuk mengamati kebiasaan kucing kita dalam buang air kecil atau besar sehingga apabila terdapat perilaku yang menyimpang bisa cepat diketahui.

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Sistem Perkencingan Kucing

Silahkan tinggalkan komentar disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.