Vaksinasi Kucing

Vaksin adalah bibit penyakit tertentu  yang sudah dilemahkan dan diberikan untuk merangsang terbentuknya zat kebal (antibodi) yang akan memerangi agen infeksi tertentu dengan membangkitkan sistem kekebalan tubuh terhadap agen infeksi penyebab penyakit tersebut.Biasanya vaksinasi diberikan dengan cara menyuntikkan di bawah kulit dan beberapa vaksin ada yang diberikan dengan cara diteteskan ke hidung atau mata. Antibodi sendiri merupakan senyawa protein yang diproduksi dalam tubuh ketika terpapar organisme penyebab penyakit yang sudah dilemahkan di dalam vaksin. Pada dasarnya vaksin diberikan dengan tujuan untuk mencegah penyakit dan bukan untuk menyembuhkan penyakit, sehingga vaksin tidak seharusnya diberikan apabila kucing sudah terinfeksi penyakit.

dua kucing putih

photo by WJ van den Eijkhoft via flickr.com/ CC BY NC ND 2.0

Sejauh ini penyakit menular pada kucing yang vaksinnya sudah diproduksi secara masal adalah: feline panleukopenia,rhinotracheitis, calicivirus ( ketiganya sering disatukan dalam satu paket vaksin), pneumonitis yang juga disebut chlamydia (terdapat vaksin yang mengandung keempat penyakit tersebut), feline leukemia virus (FeLV) dan Rabies ( untuk kucing hanya tersedia killed vaksin). Dokter hewan biasanya merekomendasikan tiga macam vaksinasi (feline panleukopenia,rhinotracheitis dan calicivirus) karena pneumonitis relatif ringan dan jarang dijumpai pada kucing rumahan. Sedangkan penyakit respirasi bagian atas seperti rhinotracheitis dan calici virus bisa menjadi serius dan mematikan.

Selain vaksin tersebut diatas  vaksin untuk pencegahan penyakit FIP (Feline Infectious Peritonitis) saat ini juga sudah ditemukan, berbeda dengan kebanyakan vaksin lainya yang diberikan dengan cara disuntikkan maka vaksin FIP diberikan dengan cara diteteskan melalui hidung ( karena hidung merupakan pintu masuknya virus FIP). Pada saat ini penggunaan dan efektivitas vaksin ini masih menjadi perdebatan karena anak kucing biasanya sudah terinfeksi virus FIP ketika lahir dan juga kucing yang tinggal di dalam rumah terus lebih kecil resiko tertular FIP ketimbang kucing yang dibiarkan berkeliaran di luar rumah.

Berkaitan dengan vaksin dan vaksinasi,hal lain yang perlu dipahami pemilik kucing adalah adanya “masa inkubasi” yaitu periode antara waktu kucing terinfeksi dengan waktu pada saat gejala penyakit  muncul dan bisa diamati. Selama masa inkubasi ini, kucing penderita tidak menunjukkan gejala penyakit yang nyata. Tidak nampaknya gejala penyakit ini umum dijumpai pada anak kucing yang tidak mendapatkan perawatan kesehatan yang baik. Sangatlah penting untuk memberikan imunisasi pada anak kucing tepat pada waktunya. Apabila kucing mendapatkan imunisasi pada saat masa inkubasi, maka ada kemungkinan antibodi yang diharapkan tidak bisa muncul karena dikalahkan oleh agen penyakit yang sudah terlanjur masuk ke dalam tubuh.

Pada umumnya jadwal pemberian vaksin untuk kucing  adalah sbb:

Usia 6 – 8 minggu : vaksinasi Panleukopenia, Rhinotracheitis dan calici virus

Usia 10 – 12 minggu: vaksinasi ulang atau sering disebut booster

Usia 13 – 15 minggu : Rabies

selanjutnya dilakukan pengulangan setiap tahun.

Vaksinasi tidaklah menjamin 100% bahwa kucing akan terlindungi dari penyakit. Kekebalan sangatlah dipengaruhi oleh banyak hal, kondisi kucing dan kondisi vaksin berpengaruh pada keberhasilan vaksinansi. Akan tetapi setidaknya vaksinasi memperkecil kemungkinan  kucing terkena penyakit menular.

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Vaksinasi Kucing

Silahkan tinggalkan komentar disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.