Kucing Hutan Bukan Untuk Dipelihara Di Rumah

Nama resminya dalam bahasa Indonesia adalah Kucing Hutan, di beberapa daerah masyarakat menyebutnya sebagai meong Congkok. Macan Akar , Kucing Batu atau Macan rembah. Bentuknya menyerupai miniatur dari leopard (macan tutul) sehingga dalam bahasa Inggris kucing ini disebut sebagai Asian Leopard Cat (ALC).

d9007b9faf
Kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dinamakan Asian Leopard Cat karena bentuk dan motifnya seperti macan tutul sumber : www.catsg.org
leopard cat
Berat kucing ini sekitar 1,6 – 8 Kg dengan panjang 45 – 65 cm sumber: www.catsg.org

Kucing ini menarik perhatian ketika belum lama ini muncul berita seorang mahasiswi sebuah universitas di Jember berfoto ria dengan kedua tangan menjinjing kucing hutan yang sudah mati. Ini bukan satu satunya kejadian, dalam satu bulan ini situs berita Tempo mencatat setidaknya ada tiga akun facebook yang memajang foto pemilik akun bersama Kucing Hutan yang “dibunuh”nya. Informasi terakhir meyebutkan polisi sudah menangkap dan memeriksa mahasiswi bersangkutan .

Kejadian tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa kucing hutan yang dalam nama ilimiahnya disebut Prionailurus bengalensis adalah termasuk satwa liar mamalia yang dilindungi undang undang (dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda maksimal 100 juta rupiah bagi yang membunuhnya). Mungkin pula banyak yang merancukan Kucing Hutan ini dengan ras kucing Bengal yang memang boleh dan sah untuk dipelihara di rumah.

Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis) berukuran sama seperti kucing rumahan dengan berat 1,6 kg – 8kg, panjang tubuh 45-65 cm, panjang ekor 20-30 cm, kucing ini bisa mencapai usia 13 tahun. Bulu tubuhnya halus dan pendek Warnanya khas, yaitu kuning kecoklatan dengan belang-belang hitam di bagian kepala sampai tengkuk Selebihnya bertotol-totol hitam Pola warna ini sama sekali tidak terdapat pada kucing-kucing liar lainnya. Bagian bawah perut putih dengan totol-totol coklat tua. Kucing hutan selalu tampak berkeliaran, sendirian atau berpasangan jantan dan betina.

Tempat hidup yang dihuninya ialah hutan dan kawasan bertetumbuhan di dekat perkampungan. Kucing ini mempergunakan sarang yang dibuatnya di gua-gua yang kecil atau di liang-liang batu. Pada siang hari kucing ini tidur di sarang ini, baru pada malam hari keluar mencari mangsa. Mangsanya berupa binatang-binatang kecil apa saja, seperti burung, kelelawar, tikus, ular, kadal dan juga kancil. Ketangkasannya memanjat pohon dan kemahirannya berenang sangat membantu di dalam perburuannya mencari mangsa. Kucing hutan sering melompat dari atas pohon untuk menerkam mangsa di atas tanah. Penyebarannya luas, mulai dari Lembag Amur di Rusia sampai ke Cina, India dan Asia Tenggara. Di Indonesia, kucing ini ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan.

Adapun kucing Bengal adalah ras kucing yang sah dan legal untuk dipelihara dirumah. Merupakan keturunan ke empat (F4) dan seterusnya dari hasil persilangan antara kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dengan kucing rumah biasa dan pertama kali disilangkan oleh Jean S Mill di tahun 1963. Kucing Bengal mempunyai ciri dan corak seperti kucing hutan namun berperilaku seperti kucing rumah biasa. Dalam situs resminya , Asosiasi Kucing Internasional (TICA) sudah menerima kucing Bengal sebagai ras tersendiri sejak tahun 1986.

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Kucing Hutan Bukan Untuk Dipelihara Di Rumah

2 pemikiran pada “Kucing Hutan Bukan Untuk Dipelihara Di Rumah

Silahkan tinggalkan komentar disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.