Kucing dan Ibu Hamil,Tentang Toksoplasmosis

Anak saya yang saat itu masih bersekolah di sebuah SMP Negeri di kota kami, tiba tiba protes sepulang dari sekolah. Dengan emosi dia minta agar kucing kucing yang biasa bermain dirumah kami diusir semua, ternyata gurunya baru saja meberi tahu bahwa menyentuh kucing bisa tertular penyakit (toksoplasma) yang berbahaya bagi kesehatan. Harus saya terima bahwa masih banyak masyarakat yang tidak paham betul tentang penyakit ini dan menganggap binatang mengeong ini sebagai penyebab utamanya.Tulisan ini saya tujukan untuk memberikan informasi yang proporsional tentang toksoplasma,kucing dan manusia.

Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondii (T.gondii). Karena penyakit ini dapat mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungan maka banyak ibu hamil yang menaruh perhatian secara khusus pada penyakit ini, terutama mereka yang memiliki binatang mengeong ini dirumahnya. Penelitian menunjukkan bahwa tidak seperti banyak pendapat yang beredar di masyarakat, meskipun kucing terlibat dalam siklus hidup parasit ini namun bersentuhan dengan kucing tidak serta merta menaikkan resiko infeksi parasit ini. Pada kenyataanya, kemungkinan dokter hewan yang berhubungan dengan banyak kucing untuk terinfeksi parasit ini tidak lebih besar dari masyarakat umum, bahkan masyarakat yang mungkin tidak pernah bersentuhan dengan kucing sekalipun. Tulisan ini bertujuan untuk memahami secara lebih proporsional hubungan kesehatan antara ibu hamil, kucing dengan penyakit toksoplasmosis.

3341003855_5f9baba96f_z
ilustrasi ibu hamil dan kucing

Secara umum dapat diasumsikan lebih kurang 25%-30% populasi manusia di dunia terinfeksi oleh T.gondii. Prevalensinya (tingkat penularannya) bervariasi tergantung negara (antara 10%-80%).Prevalensi yang tergolong rendah (10%-30%) terdapat di negara negara Amerika Utara , Asia Tenggara, Eropa Utara dan wilayah Sahelia di Afrika. Prevalensi sedang (30%-50%) terdapat di negara negara Eropa. Sedangkan prevalensi tinggi terdapat di negara Amerika Latin dan wilayah tropis Afrika.

Siklus Hidup : Kucing yang merupakan inang tetap dari T.gondii biasanya terinfeksi karena memakan daging yang mengandung kista T.gondii – ini bisa berupa tikus yang terinfeksi atau daging yang belum matang. Setelah kucing memakan daging yang terinfeksi tersebut, maka melalui siklus hidup yang kompleks didalam tubuh kucing, T.gondii akan berbiak dan membelah diri  menghasilkan ookista yang kemudian disebarkan keluar melalui tinja kucing. Sistem kekebalan tubuh dari kucing yang terinfeksi T.gondii tersebut segera bereaksi sehingga perkembang biakan parasit ini segera dihentikan dan penyebaran ookista dalam tinja kucing akan berhenti setelah 10-14 hari. Penyebaran ulang sangat jarang sekali terjadi dan kalaupun terjadi jumlah ookista yang keluar sangatlah sedikit.

Ookista yang keluar dari tinja kucing tidak serta merta dapat menginfeksi, karena sebelum bisa menginfeksi ookista tersebut perlu terlebih dahulu membentuk spora dalam proses yang disebut sporulasi. Proses pembentukan spora ini membutuhkan waktu sampai 5 hari. Ookista yang sudah bersporulasi ini dapat bertahan sampai 18 bulan dan dapat disebarkan secara tidak langsung melalui berbagi objek, misalnya angin, air, sayur dan buah buahan, dll.

Hampir semua mamalia berdarah panas termasuk manusia, domba, tikus adalah inang perantara dari T.gondii dan dapat terinfeksi apabila menelan ookista yang sudah bersporulasi tersebut. Namun infeksi pada inang perantara tidak akan menghasilkan ookista seperti pada kucing. Pada inang perantara,ookista akan mengalami siklus dan berubah menjadi kista jaringan yang menetap dalam jaringan tubuh inang.Kista jaringan ini akan menjadi sumber infeksi baru apabila daging dari inang tersebut dikunsumsi.

Kemungkinan seekor kucing terinfeksi T.gondii sangat tergantug dari gaya hidupnya, kucing yang suka berburu tikus mempunyai kemungkian terinfeksi lebih besar karena makan tikus buruannya.Disamping itu, kucing juga bisa terinfeksi apabila memakan daging yang belum matang.

Bagaimana Manusia Terinfeksi Toksoplasmosis?: kasus toksoplasmosis pada manusia terjadi karena mengkonsumsi daging yang terkontaminasi dalam keadaan mentah atau belum dimasak sampai matang. Perlu diketahui, daging sapi, domba maupun babi sangat dimungkinkan mengandung kista jaringan dari T.gondii yang menular dan daging segar lebih berisko dibandingkan daging beku karena pembekuan biasanya membunuh T. gondii. Memakan daging mentah olahan seperti Salami dan Parma juga berisiko tinggi untuk tertular.

Jalur penularan lain yang mungkin terjadi adalah tertelannya ookista pada tanah yang terkontaminasi karena ketika tangan yang kotor ketika bertaman secara tidak sengaja menyentuh mulut, juga karena mengkonsumsi buah dan sayuran yang tidak dicuci.

Susu kambing yang belum dipasteurisasi (disterilkan) dan produk turunannya juga dimungkinkan menjadi sumber penularan dari T.gondii.

Jarang sekali terjadi penularan karena mengkonsumsi air yang atau menghirup udara yang tercemar.

Berbeda dengan pendapat umum pada masyarakat, bersentuhan dengan kucing tidaklah meningkatkan resiko manusia untuk tertular T.gondii. Walaupun kebersihan sangatlah penting namun bersentuhan dengan kucing bukan merupakan faktor resiko penularan toksoplasmosis. Kucing hanya menyebarkan ookista selama 10-14 hari setelah terinfeksi pertama kali dan ookista membutuhkan waktu 1-5 hari untuk bersporulasi sebelum bisa menjadi bentuk yang bisa menginfeksi. Membersihkan tinja kucing setiap hari dan secara rutin melakukan desinfeksi akan menurunkan resiko bagi pemiliknya.

Efek Infeksi T.gondii Pada Manusia: Infeksi T.gondii pada manusia sangatlah umum terjadi, diperkirakan 30% populasi manusia sudah pernah terinfeksi T.gondii . Biasanya orang yang terinfeksi T.gondii tidak merasakan apa apa atau hanya merasakan gejala seperti flu ringan. Akan tetapi pada orang yang kekebalan tubuhnya terganggu seperti para penderita kanker yang sedang menjalani terapi, pasien penerima cangkok organ, penderita AIDS, para balita dan lanjut usia – toksoplasmosis mungkin akan berakibat lebih serius.

Pada ibu hamil yang belum pernah terinfeksi T.gondii sebelumnya apabila terinfeksi T.gondii pada trisemester pertama kehamilannya,janin yang dikandungnya mempunyai resiko keguguran. Akan tetapi diperkirakan hanya 0,2%-1,6% dari wanita hamil yang terinfeksi T. gondii ketika hamil. Sementara penularan dari ibu ke anak melalui plasenta sangatlah jarang terjadi – diperkirakan hanya 1 dari 100 ribu bayi yang dihasilkan di Inggris menderita.

Untuk Mengurangi resiko penularan toksoplasmosis pada ibu hamil, dianjurkan hal hal berikut:

1. Memasak daging setidaknya pada suhu 70 C selama 15 menit atau menyimpan pada suhu minus 12C

2. Menghindari konsumsi daging mentah atau susu yang belum dispasteurisasi (sterilisasi).

3. Mencuci semua buah dan sayuran sebelum dimakan

4. Mengenakan sarung tangan ketika berkebun

5. Sedapat mungkin tidak membuang sendiri kotoran kucing, apabila terpaksa melakukannya, buanglah setiap hari dengan mengenakan sarung tangan setelah itu bersihkan dengan sabun atau desinfektan.

6. Secara rutin membersihkan baki kotoran kucing (litter box), mencucinya dengan detergent atau dengan air mendidih selama 10 menit

7. Tidak memberi makan kucing daging mentah

Secara sederhana, hal hal tersebut diatas dapat diringkas seba

Orang Indonesia biasa, ayah dari dua orang anak,tinggal di Purworejo -kota kecil yang tenang di Jawa Tengah, penyuka fotografi dan kucing, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Kucing dan Ibu Hamil,Tentang Toksoplasmosis