Feline Viral Rhinotracheitis

Secara kebetulan banyak pasien saya belakangan ini memiliki keluhan yang sama: pilek dengan mata sembab atau bengkak dan mengeluarkan air mata yang kental (saya tidak tahu bahasa Indonesia yang benar, tapi kalau orang Jawa biasa menyebut sebagai “belek”) sampai kesulitan membuka matanya. Kebanyakan pasien tersebut adalah kucing kucing yang masih kecil dengan umur kurang dari 8 minggu.

Kebanyakan kucing kucing tersebut masih mempunyai nafsu makan yang baik dan masih nampak lincah dan karena itu pula biasanya pemiliknya baru menyadari “ketidaknormalan” kucingnya ketika sudah relatif parah. Beberapa pasien sudah parah kondisinya bahkan sampai matanya tidak berfungsi lagi, baik satu matau maupun keduanya. Karena itu menurut saya penyakit ini tidak boleh diremehkan.

Kucing kucing tersebut diatas mengalami infeksi saluran pernafasan atas yang disebabkan oleh infeksi virus herpes kucing (Feline Herpes Virus atau FHV-1), kondisi ini sering disebut sebagai Feline viral rhinotracheitis (FVR). Seperti saya sebutkan diatas, virus ini terutama menyerang kucing anakan (kitten) namun pada dasarnya kucing semua umur bisa terserang virus ini. Selain kucing anakan, kucing hamil dan tidak memiliki kekebalan yang cukup atau punya riwayat terpapar virus herpes juga berisiko terserang penyakit ini.

Kucing anakan atau kitten mudah terinfeksi virus herpes ini karena biasanya mereka tidak memiliki kekebalan yang cukup dalam darahnya. Seperti diketahui anak kucing mendapatkan kekebalan pertama dari induknya melalui kolostrum (air susu induk yang dihasilkan pada hari hari pertama menyusui anak). Satu satunya cara untuk mendapatkan kitten dengan kadar kekebalan yang cukup adalah dengan menjamin induknya mempunyai kekebalan yang cukup pula dan ini artinya memastikan induknya mendapatkan vaksinasi yang cukup.

Berbeda dengan kebanyakan penyakit kucing yang memiliki gejala “hilangnya nafsu makan”, kucing yang terkena FVR biasanya masih memiliki nafsu makan yang baik (setidaknya pada awalnya), adapun gejala yang menonjol dan mudah diamati tentu saja adalah perubahan pada hidung dan terutama matanya. Sebagaimana penyakit lain maka FVR mengakibatkan turunnya kondisi tubuh kucing sehingga mudah kemasukan penyakit lainnya dan ini artinya bisa (sangat mungkin) kucing terkena FVR plus (plus penyakit lainnya) yang tentu saja akan memperburuk kondisinya.

Karena pada dasarnya belum ada pengobatan yang efektif untuk virus maka kesembuhan penyakit ini terutama mengandalkan kekebalan alami yang muncul dari tubuh kucing itu sendiri. Kekebalan ini muncul sebagai reaksi alami terhadap masuknya virus kedalam tubuh. Kalaupun dokter memberi resep obat, biasanya bukan untuk membunuh virusnya secara langsung namun lebih untuk menghambat replikasi virus tersebut sehingga diharapkan virus tidak bertambah dengan cepat dan kekebalan yang ada dalam tubuh kucing bisa melawannya.

Selain memberi obat untuk menghambat replikasi virus, dokter biasanya juga memberi antibiotika yang fungsinya untuk melawan infeksi bakteri yang muncul akibat menurunnya kondisi tubuh kucing sehingga meminimalisir terjadinya komplikasi penyakit.

Prognosa (ramalan kesembuhan) dari penyakit ini biasanya baik sepanjang tidak terjadi komplikasi namun membutuhkan waktu yang cukup lama (setidaknya 2 minggu). sehingga pasien kucing penderita FVR harus dijaga supaya tidak stress dan juga dengan menyediakan tempat yang bersih dan nyaman serta menghindarkan kontak langsung maupun tidak langsung dengan kucing ataupun hewan lain.

Walaupun tingkat kesembuhan penyakit ini cukup baik (terutama jika masih awal dan tidak ada komplikasi penyakit lain) namun melakukan pencegahan akan selalu lebih baik dari mengobati dan ini artinya pemberian vaksin sangat dianjurkan untuk mencegah penyakit ini. Selain vaksin tentu saja harus diimbangi dengan pemeliharaan yang baik termasuk membatasi jumlah kucing yang ada dalam satu rumah karena semakin padat populasi kucing akan semakin besar kemungkinan terpapar penyakit ini.

 

 

 

Feline Viral Rhinotracheitis

Merawat Rambut Kucing Agar Nampak Cantik

Ibarat pakaian, salah satu daya tarik kucing (di mata manusia) adalah rambutnya, saya lebih suka menyebut rambut dari pada bulu sebab bulu lebih tepat disematkan pada unggas seperti ayam dan burung. Rambut kucing yang sehat akan nampak cantik, bersinar dan tentu saja berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam setiap sentimeter persegi kulit kucing terdapat tidak kurang dari 20,000 helai rambut yang memiliki berbagai fungsi: merupakan perpanjangan organ sensoris kucing, membantu produksi nutrisi nutrisi penting seprti vitamin D, melindungi kucing dari pengaruh cuaca seprti panas,hujan dan angin.

foto milik Ilaria, lisensi creative common CC BY-NC 2.0

Lanjutkan membaca “Merawat Rambut Kucing Agar Nampak Cantik”

Merawat Rambut Kucing Agar Nampak Cantik

Kastrasi Kucing Jantan

Dalam berbagai kesempatan saya selalu menyarankan tindakan sterilisasi kucing sebagai salah satu cara untuk mencegah populasi kucing yang berlebihan yang tentu saja tidak bagus untuk lingkungan dan juga untuk kucing itu sendiri. Dari pengalaman saya bertemu para pemilik kucing , kebanyakan dari mereka melihat steril kucing betina lebih penting daripada kucing jantan karena kucing betina¬† bisa hamil sedangkan kucing jantan tidak akan beranak pinak. Padahal sebenarnya kucing jantan akan menghasilkan keturunan (anak) yang lebih banyak dibanding kucing betina karena satu kucing jantan bisa kawin dan menyebabkan kehamilan banyak kucing betina. Lanjutkan membaca “Kastrasi Kucing Jantan”

Kastrasi Kucing Jantan

Kucing Memijat

Pernah suatu ketika saya melihat liputan di sebuah televisi swasta tentang kucing yang suka memijat tuannya, pada liputan tersebut disertakan video tentang pemilik kucing yang tidur telungkup dan si kucing memijit mijit punggung tuannya dengan menggunakan tangan (kaki depan) nya. Apa yang dilakukan si kucing tersebut sebenarnya adalah hal yang lumrah pada seekor kucing, gerakan ini sering disebut sebagai kneading.

Foto milik Michael GorzkaCC BY 2.0

Lanjutkan membaca “Kucing Memijat”

Kucing Memijat